<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Wanda Listiani</title>
	<atom:link href="http://wandalistiani.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wandalistiani.wordpress.com</link>
	<description>Berbagi Ilmu Dari Yang Tak Terbagi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Sep 2008 05:40:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wandalistiani.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Wanda Listiani</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wandalistiani.wordpress.com/osd.xml" title="Wanda Listiani" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wandalistiani.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KEBIJAKAN BANDUNG KOTA KREATIF</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/09/20/kebijakan-bandung-kota-kreatif/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/09/20/kebijakan-bandung-kota-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 05:40:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Dalam era globalisasi, tantangan yang dihadapi Kota Bandung semakin berat karena harus mampu bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia maupun negara lain pada semua bidang. Oleh karena itu, perlu upaya pemanfaatan semua keunggulan untuk melakukan kemitraan dengan berbagai pihak. Dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, industri harus mampu meningkatkan kualitas produk dan inovasi. Industri berdasarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=25&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Dalam era globalisasi, tantangan yang dihadapi Kota Bandung semakin berat karena harus mampu bersaing dengan kota-kota lain di Indonesia maupun negara lain pada semua bidang.<span> </span>Oleh karena itu, perlu upaya pemanfaatan semua keunggulan untuk melakukan kemitraan dengan berbagai pihak. Dalam kondisi persaingan yang semakin ketat,<span> </span>industri harus mampu meningkatkan kualitas produk dan inovasi. Industri berdasarkan kreativitas telah menjadi bukti dapat meningkatkan daya saing. Bagi negara yang sedang berkembang khususnya Indonesia, kesadaran pengembangan sumberdaya yang mengandalkan kreativitas masih dianggap marginal. Padahal industri kreatif mendorong pendapatan negara sekaligus menurunkan angka kemiskinan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Kekuatan utama industri kreatif di Indonesia adalah pada seni dan budaya yang bersumber dari puluhan bahkan ratusan budaya etnik (<em>indigenous)</em> yang tersebar di seluruh nusantara, misalnya kerajinan (kayu, bambu, rotan, kulit, logam dan tenun tekstil), seni pertunjukan (wayang golek dan kulit, tari-tarian, upacara <em>(ceremony) </em>tradisional, musik dan sebagainya. Industri Kreatif adalah industri yang berbasis kreativitas, keterampilan dan talenta yang memiliki potensi peningkatan kesejahteraan serta penciptaan tenaga kerja dengan cara menciptakan dan mengeksploitasi sumberdaya kreatif dengan HaKI menjadi persyaratannya. Menurut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu (2008), Industri kreatif merupakan bagian dari program prioritas pemerintah untuk meningkatkan daya saing, memacu ekspor non migas, serta menjadi sumber baru bagi pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. Peran ekonomi industri kreatif yang berbasis seni budaya dan inovasi teknologi memberikan sumbangan yang cukup besar dalam Produk Domestik Bruto (PDB).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Industri kreatif dikategorikan sebagai industri<span> </span>yang paling dinamis dan memiliki tingkat risiko serta sekaligus nilai tambah yang tinggi. Industri kreatif tidak hanya menghasilkan produk barang maupun jasa pelayanan tetapi juga memiliki nilai ekspresi baik nilai estetika, nilai spiritual, nilai sosial, nilai simbolik maupun nilai keunikan dan orisinalitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><strong>Kebijakan Insentif </strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;">Permasalahan yang dihadapi sektor industri kreatif di Bandung, sebagai kota yang dipilih untuk <em>pilot project</em> adalah persoalan dimana pemerintah (negara) melalui kebijakan-kebijakan insentif baik bahan baku, persaingan usaha, teknologi dan proses produksi, distribusi, ekspor impor serta HaKI belum memberikan solusi bagi masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh pelaku usaha. <span lang="IN">Belum lagi persoalan industri kreatif melibatkan lintas departemen, sehingga diperlukan integrasi program antar departemen dan sinkronisasi kebijakan implementatif. Kebijakan awal PP insentif R&amp;D, fasilitas UU Penanaman Modal, UU HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual), dan UU Perindustrian serta pengklasteran industri tertentu oleh pemerintah dianggap belum cukup memadai untuk memfasilitasi perkembangan industri kreatif ini. Kemudian kebijakan pendukung seperti PI-UMKM yang misinya mendorong kreativitas ekonomi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas, variasi jenis barang, nilai tambah, dan daya saing melalui keakraban teknologi dan karya-karya inovatif <em>(inovative findings) </em>serta rumitnya prosedur dan kebijakan mengakibatkan pelaku industri kreatif di Jawa Barat berjalan sendiri tanpa memperdulikan kebijakan atau manfaat dari program tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="IN">Padahal landasan hukum utama terkait langsung dengan Industri kreatif adalah draft rancangan Peraturan Presiden R.I tentang kebijakan Pengembangan Industri Nasional baru disusun pada pertengahan Mei 2008. Namun pada saat ini kebijakan tersebut masih belum selesai. Kebijakan pendukung maupun program pemerintah daerah menjadi alternatif utama yang harus segera dirasakan oleh pelaku usaha kreatif dalam mendukung pengembangan industri kreatif daerah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Kebijakan Pendukung</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="IN">Beberapa pilihan tindakan mulai dibuat oleh pemerintah kota Bandung bekerjasama dengan berbagai pihak untuk merespon kebutuhan kongkrit pelaku industri kreatif seperti pemberian ijin helarfest, helar kria Jabar, kickfest, dan agenda pendukung lainnya pada bulan Juli s.d Agustus 2008. Perhelatan yang berupa pameran, seminar, festival, workshop, pertunjukan seni yang mempertemukan pelaku kreatif kota Bandung dengan pelaku kreatif luar kota maupun negara lain. Kebijakan pendukung lainnya adalah agenda triwulan III Pemerintah Provinsi Jawa Barat 2008 di bidang perekonomian dan penggunaan ruang publik oleh pemerintah kota Bandung pada berbagai even atau kegiatan yang bisa diakses oleh berbagai komunitas di Bandung. Tetapi ternyata dukungan pemerintah kota dianggap tidak cukup, masih ada kekurangan seperti<span> </span>sosialisasi acara yang kurang, media informasi yang terbatas, sulitnya perijinan dan perumusan agenda tahun depan untuk pelaku industri kreatif. Begitu pula dengan pembentukan forum, informasi dan media bersama di ruang publik serta penyediaan kawasan bagi pengembangan industri kreatif di kota Bandung menjadi kebutuhan utama yang harus segera diwujudkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="IN">Adopsi Kebijakan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="IN"><span> </span>Belajar dari pengalaman kota kreatif seperti Finlandia dalam pembentukan sistem jaringan pengaman sosial dan kebijakan pajak. Kebijakan pajak yang tinggi dimanfaatkan untuk pengembangan sistem pendidikan yang berkualitas dan jaminan pendidikan bagi warga. Jaminan ini merupakan program untuk mempersiapkan sumberdaya manusia yang memiliki bekal pengetahuan dan mampu berkompetisi. Pada tahun 2003 Finlandia dinobatkan sebagai negara paling kompetitif di dunia. Begitupula dengan Malaysia yang merapkan kebijakan pemotongan pajak bagi pengusaha-pengusaha yang mengembangkan budaya bangsa seperti batik, kain songket dan tenun.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="IN">Menurut Dolowitz dan Marsh (2000) ada tiga alasan utama kegagalan kebijakan yang diadopsi dari kebijakan yang serupa dari tempat lain yaitu <em>pertama,</em> peralihan informasi yang tidak utuh tentang kebijakan yang serupa sehingga menyebabkan pemahaman yang kurang.<em> Kedua</em>, peralihan yang tidak lengkap, kegagalan program terjadi karena dikesampingkannya konteks dimana kebijakan asli itu dibuat. <em>Ketiga,</em> kebijakan dimana konteks sosial, ekonomi, politik dan ideologi yang berbeda tidak mungkin memberikan dampak yang sama pada konteks baru. </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;" lang="IN">Berdasarkan ketiga alasan ini maka kebijakan Bandung kota kreatif diupayakan <em>pertama,</em> mendukung permodalan proyek kreatif, promosi dan partisipasi kelompok usaha kecil kreatif. <em>Kedua,</em> mengurangi tingkat pengangguran dengan menghubungkan mereka kepada sumber ekonomi kreatif baik industri formal maupun informal. Sektor informal merupakan bagian penting penghidupan perkotaan dan memberikan keuntungan lebih bagi perorangan. Keuntungan yang tidak hanya berasal dari perubahan nilai ekonominya saja melainkan penggunaan ruang publik sebagai tempat usaha. <em>Ketiga,</em> kebijakan diarahkan pada pemberdayaan pelaku industri kreatif dalam komunitas. Kebijakan ini dapat berupa jaminan kebebasan berekspresi dari pemerintah misalnya pengadaan k<a name="_Toc199854538">onser musik, tempat berjejaring di ruang publik dan ruang terbuka untuk bekerja dan ruang pameran karya. <em>Keempat</em>, pembangunan kota bervisi kota kreatif dimana cara inovatif dan kreativitas digunakan untuk mencari jalan keluar permasalahan kota</a> seperti melibatkan para pengangguran untuk berpartisipasi dalam proyek seni kreatif. Keterlibatan berbagai pihak akan membawa dampak positif bagi penanggulangan permasalahan sosial di kota Bandung.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wandalistiani.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wandalistiani.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wandalistiani.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wandalistiani.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=25&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/09/20/kebijakan-bandung-kota-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAFSIR KOSMOLOGIS REOG PONOROGO</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/tafsir-kosmologis-reog-ponorogo/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/tafsir-kosmologis-reog-ponorogo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Kesenian adalah salah satu cara seseorang memasyarakat dan ekspresi seseorang untuk berhubungan dengan orang lain. Ekspresi seseorang dalam seni pertunjukkan memerlukan hadirnya orang lain dalam aktivitasnya. Dalam kesenian masyarakat sederhana di masa lampau, sebuah tarian atau perilaku teatral sering dilakukan tanpa perlu adanya penonton. Hal ini dilakukan dalam hubungan pengertian komunikasi suku terhadap arwah-arwah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=24&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoSubtitle"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pengantar</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;font-style:normal;">Kesenian adalah salah satu cara seseorang memasyarakat dan ekspresi seseorang untuk berhubungan dengan orang lain. Ekspresi seseorang dalam seni pertunjukkan memerlukan hadirnya orang lain dalam aktivitasnya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam kesenian masyarakat sederhana di masa lampau, sebuah tarian atau perilaku teatral sering dilakukan tanpa perlu adanya penonton. Hal ini dilakukan dalam hubungan pengertian komunikasi suku terhadap arwah-arwah nenek moyangnya (Sumardjo, h. 3). Tetapi dalam masyarat yang telah “tercemar” dengan peradaban luar, fungsi seni pertunjukkan itu kadang masih hidup atau kadang fungsinya berubah dari religius ke sekular, hanya sekedar tontonan.<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam <em>Kamus Umum Bahasa Indonesia</em> (Badudu-Zain, 1994:1160), reog dikenal sebagai salah satu kesenian tradisional masyarakat dan merupakan tarian yang menghibur. Di pulau Jawa, misalnya reog termasuk<span> </span>seni tradisional rakyat untuk hiburan; dilakukan dalam bentuk tarian. Sedangkan di daerah Sunda, reog dikenal sebagai salah satu seni hiburan biasanya dilakukan oleh 4 orang, ada pemimpinnya dan masing-masing menyandang gendang itu dipukul-pukul; sifatnya humor dan mengundang sindiran-sindiran terhadap masyarakat</span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Pengertian dari reog ini juga ada dalam <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua </em>(Balai Pustaka, 1995 : 835). Reog adalah :</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(jw) tarian tradisional dalam arena terbuka      yang berfungsi sebagai hibura rakyat, mengandung unsur magis, penari utama      adalah orang berkepala singa dengan hiasan bulu merak, ditambah beberapa      penari bertopeng dan berkuda lumping yang semuanya laki-laki. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(sd) tontonan tradisional sebagai hiburan      rakyat yang mengandung unsur humor-humor sindiran. </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<h1 style="line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;font-style:normal;">Latar Sejarah</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Reog adalah sendratari tradisional yang berasal dan berkembang di kabupaten ponorogo, 28 km dari Madiun, Jawa Timur. Reog dapat segera dikenali dari irama gamelannya yang membangkitkan semangat, serta baunya yang menimbulkan rangsang &amp; daya tarik. Biasanya pergelaran reog didukung oleh kekuatan mistik. Hal ini mengakibatkan pertunjukkannya kadang-kadang menyeramkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tidak dapat dipastikan kapan reog ponorogo mulai ada. Namun kesenian rakyat ini dapat dikatakan sudah berusia tua karena disebut-sebut dalam prasasti kerajaan kanjuruhan (kini Malang) yang bertahun 760 M, yakni pada masa pemerintahan raja Gajayana. Kesenian ini juga tertulis dalam salahsatu prasasti kerajaan kediri dan jenggala yang bertahun 1045.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Ada</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> beberapa versi legenda yang menyebutkan asal usul reog. Meski ada beberapa versi yang berlainan, ada satu kesamaan : reog merupakan sebuah tarian arakan cinta raja kerajaan wengker (kini Ponorogo) yang meminang putri kilisuci anak airlangga, raja kediri. Kisah ini diawali ketika prabu kelomo seandono, raja kerajaan wengker, jatuh cinta pada putri raja kediri. Kemudian ia mengutus senopati Bujang-Ganong beserta pasukan berkudaya ke kediri untuk meminang putri raja kediri. Di tengah perjalanan, utusan kerajaa wengker ini dihadang oleh pasukan merak dan harimau yang dipimpi Sungabarong, penguasa hutan ponorogo. Senopati Bujangganong beserta pasukkanya kalah dan kembali ke wengker. Akhisrnya, prabu kelono sewandono, raja wengker, memimpin sendiri pasukannya. Setelah singobarong kalah, ia bersedia membantu penguasa wengker meminang putri raja kediri. Diiringi tetabuhan, tari-tarian serta sorak-sorai kegembiraan para prajuritnya, melajulah prabu kelomo sewandono bersama singobarong menuju kediri untuk melamar putri kilisuci. Tetabuhan dan sorak sorai inilah yang kemudian berkembang menjadi musik pengiring reog.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<h3><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Struktur Pertunjukannya</span></h3>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kini reog biasa dimainkan dalam resepsi pernikahan, khitanan, atau juga untuk menyambut tamu agung. Kadang-kadang reog juga dimainkan pada perayaan-perayaan lain, misalnya pasar malam, taman hiburan, setiap minggu juga mempergelarkan reog. Perangkat musik reog sederhana. Irama melodi anehnya berasal dari bunyi terompet khusus yang disebut salompret bernada pelog diiringi rampak ketipung, kendang, ketuk, kenong, gong serta angklung yang bernada slendro. Nada-nada sumbang yang dihasilkan, yang merupakan panduan antara laras slendro dan pelog, menghasilkan suasanan mistik, aneh, sekaligus mempesona. Iramanya yang dinamis dan bergelora sangat mudah mengundang penonton untuk berkumpul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pakaian pemain reog serba hitam dengan ikat kepala yang disebut <em>udeng</em>. Bajunya berwarna hitam, longgar, tidak bercorak dan dipakai tanpa mengaitkan kancingnya sehingga dada pemakainya tampak jelas. Celananya yang sangat longgar juga berwarna hitam : panjangnya hanya sampai di bawah lutut. Celana ini dilengkapi ikat pinggang (koloran) berwarna putih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam iring-iringan pertunjukan, reog ponorogo biasanya terbagi dalam beberapa kelompok. Kekuatan pertunjukannya terletak pada pembagian kelompok yang masing-masing memilki fungsi sendiri tetapi saling melengkapi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kelompok pertama adalah kelompok pengawal atau kelompok pembuka, kelompok dengan sikap garang dan angkuh yang terdiri atas 3 sampai 4 orang bercelana panjang longgar hitam dengan kaus bergaris merah hitam; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kelompok pendamping bertugas mengamankan situasi dan biasanya berada di sisi kanan kiri rombongan; Kelompok penari terdiri atas pemain barongan, pemain topeng, penari kuda kepang, serta penari dan pemain cadangan; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kelompok pemukul gamelan yang lazimnya berada di belakang para penari terdiri atas peniup terompet, pemukul gendong dan gong, pemusik angklung, pemukul, ketuk kenong, pemukul ketipung serta 2 orang pemikul dan pemukul kempul; dan kelompok penggiring yang merupakan kelompok terbesar biasanya berada paling belakang untuk ikut menari, menyanyi dan bersorak sorai menghidupkan suasana. Ada 3 pelengkap utama yang biasanya menyertai pertunjukan reog yakni :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-21pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Barongan yang melambangkan harimau dan dhadhak merak yang melambangkan burung merak, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-21pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Topeng serta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-21pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kuda kepang yang melambangkan binatang piaraan tunggangan manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Ketiganya melambangkan karakter yang berbeda. Barongan dan dhadhak merak, yang selalu berpasangan sangat tenang, berwibawa meskipun angkuh. Singa bermahkota merak yang merupakan pasangan harimau dan merak menjadi ciri khas reog. Topeng yang selalu dikenakan bujangganong yang pandai berakrobat menimbulkan kesan lucu dengan geraknya yang lincah. Namun bila kuda kepang mulai beraksi, pertunjukan mulai menyeramkan karena unsur magisnya meskipun gaya kuda kepang ini cukup lunak dengan mimik mempesona yang memikat penonton. Sebagai sosok satria berkuda, penunggang kuda kepangnya diperankan oleh seorang anak laki-laki beraut manis yang disebut jatilan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam reog walaupun melambangkan sifat dan lakon yang berbeda – barongan dan dhadhak merak yang tingginya mencapai 3 meter dalam wujudnya adalah satu. Keduanya berwujud kepala harimau dengan mahkota ekor merak yang bobotnya mencapai 70 kg ini lazimnya dipakai di kepala pemain dengan cara digigit. Tetapi dalam permainan kucing tikus untuk mengurangi bobotnya,<span> </span>ekor merak yang sangat lebar ini dilepas sehingga gerakan barongan menjadi lebih lincah. Topeng menjadi tikus, sedangkan barongan adalah kucingnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Reog ponorogo memiliki 3 wujud topeng, yakni topeng hewan, topeng manusia dan topeng raksasa. Topeng barongan adalah topeng hewan, sedangkan topeng bujangganong, topeng berwujud raksasa dengan dahi mengganong (menjorok) adalah topeng raksasa. Warna topeng raksasa ini merah tua atau hitam, matanya melotot, rambutnya panjang ke depan, serta hidungnya besar dan panjang. Yang merupakan topeng manusia adalah topeng kelono. Topeng berambut panjang ini memerankan prabu kelono sewandono. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Gerak kuda kepang sangat lincah. Jatilan, penunggang kuda kepang adalah anak laki-laki, biasanya berwajah manis dan harus belum menikah. Dalam sendratari rakyat ini terdapat hubungan erat yang aneh antara pemborong (pemain barongan) dan jatilan (pemain kuda kepang yang disebut juga gemblak). Hubungan mereka mirip hubungan laki-laki dan wanita. Pemain barongan biasanya sangat kekar, kuat dan menguasai para gemblak. Dahulu tak jarang terjadi pertarungan antara satuan reog untuk memperebutkan gemblak. Karena itu jatilan biasanya selalu mendapat perlindungan khusus. Dalam iring-iringan reog, jatilan selalu berada di barisan paling depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Jatilan sudah amat tua usianya. Mungkin sudah ada sejak zaman prasejarah Indonesia. Upacara pemujaan kuda (totemisme) ini dahulu dilakukan oleh hanya dua orang saja yang menunggang kuda-kudaan dari anyaman bambu. Penunggang kuda dibuat kesurupan atau <em>in trance</em> sehingga berlaku sebagai kuda, yakni dicambuki, diberi makan rumput, makan padi dan daun-daunan lain kegemaran seekor kuda. Dengus si penari pun seperti kuda.<em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<h3><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Penafsiran Reog Ponorogo</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Reog berupa tokoh binatang mitologi yang digambarkan berkepala singa dan bermahkota gunungan. Tokoh binatang mitologi ini bisa diurut dari masyarakat mesolitik. Seni teater yang mula-mula berupa seni ekspresi-komunikasi masyarakat mesolitik yang berburu dan semi masyarakat neolitik yang agraris. Sisa-sisa terbesar dari masyarakat mesolitik (berburu sebagai mata pencaharian hidup yang utama) selalu menghadapi tantangan-tantangan hidup yang spesifik berburu binatang, ikan, ubi-ubian dan lain-lain, di samping juga perebutan antar kelompok dalam memperebutkan wilayah perburuan serta menghadapi bahaya-bahaya alam dan wabah penyakit. Obsesi hidup masyarakat demikian itu tertuju pada kesulitan-kesulitan perburuannya, sehingga idiom-idiom teater mereka juga tidak jauh dari perilaku sehari-hari yang berburu di hutan atau nelayan di pantai. Seni pertunjukkan mereka yang didasari oleh obsesi religius terhadap tantangan kehidupan mereka akan menunjukkan ciri-ciri khas yang bersumber dari kehidupan yang mereka kenal. Tidak mengherankan apabila seni tari mereka menunjukkan imitasi tingkah binatang, binatang air atau gerak alam yang buas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam sendratari rakyat ini terdapat hubungan erat yang aneh antara pemborong (pemain barongan) dan jatilan (pemain kuda kepang yang disebut juga gemblak). Hubungan mereka mirip hubungan laki-laki dan wanita. Pola yang ada dalam sendratari in adalah pola dua, pasangan-pasangan oposisi substansial lebih menekankan “pertentangan” dari pada “komplementer”, meskipun disadari makna saling melengkapi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Upacara pemujaan kuda (totemisme), penunggang kuda dibuat kesurupan atau <em>in trance</em> sehingga berlaku sebagai kuda, yakni dicambuki, diberi makan rumput, makan padi dan daun-daunan lain kegemaran seekor kuda. Dengus si penari pun seperti kuda. Hadirnya roh (non material) dalam material, jiwa dalam badan jatilan merupakan simbol paradoks. Yang paradoks itu berupa bersatunya dua unsur yang saling bertentangan. Semua kehadiran dualistik ini saling membelakangi atau berhadapan hadir dalam satu kesatuan. Yang disebut “ada” itu paradoksal.</span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam bukunya Sumardjo (h. 17), kesenian teater tradisional, termasuk reog pada masyarakat religi asli difungsikan sebagai :</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">pemanggil kekuatan gaib</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">menjemput roh-roh pelindung untuk hadir di      tempat terselenggaranya pertunjukkan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">memanggil roh-roh baik untuk mengusir      roh-roh jahat</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">peringatan pada nenek moyang dengan      mempertontonkan kegagahan maupun kepahlawannya</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">pelengkap upacara      sehubungan dengan peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">pelengkap upacara      untuk saat-saat tertentu dalam siklus waktu</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Fungsi-fungsi ini beberapa diantaranya masih akan terus hidup tetapi bila reog ini difungsikan diluar upacara, semuanya hanya mempunyai nilai profan saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tarian dalam upacara ini dilakukan sebagai wujud </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">partisipasi dalam aturan kosmos itu sehingga hidupnya menjadi otentik dan bernilai. Untuk mengungkapkan kepercayaan itu, manusia memakai lambang-lambang dan tanda, berupa mitos dan ritus. Mitos berupa cerita yang menafsirkan makna hidup berdasarkan kejadian purba (asal usul masyarakat atau padi memberikan petunjuk bagaimana manusia harus berkelakuan sesuai dengan kosmos). Sedang ritus adalah kelakuan simbolik yang mengkonsolidasikan atau memulihkan tata alam dan menempatkan manusia dalam tata alam tersebut. Ritus ini punya banyak bentuk, seperti menceritakan kembali mitos asal, mementaskan kembali cerita mitos, upacara, selametan, korban dan sebagainya. (sumardjo, h. 20)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kadang manusia modern mencampuradukkan saja mana yang harus dan mana yang tabu. Pola-pola seni seenaknya digunakan bagi keperluan modern, hanya demi estetika belaka. Orang sudah tidak tahu “apa yang harus” dan “apa yang tidak boleh”. </span></p>
<h4><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Daftar Pustaka</span></h4>
<h2 style="line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;"> </span></h2>
<h2 style="line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;font-weight:normal;">Badudu-Zain<em>, 1994. Kamus Umum Bahasa Indonesia</em>, Jakarta : Sinar Harapan</span><span style="font-family:&quot;"></span></h2>
<p class="MsoBodyText3" style="margin-left:36pt;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Cipta Asli Pustaka, 1990. </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;font-weight:normal;">Ensiklopedi Nasional Indonesia No. 14</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;font-weight:normal;">/Tim PT. Cipta Asli Pustaka, Jakarta : PT. Cipta Asli Pustaka, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Depdikbud, 1995. <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua</em>, Jakarta : Depdibud &amp; Balai Pustaka</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;font-style:normal;">Sumardjo, Jakob. </span><span style="font-family:&quot;">Perkembangan Teater Modern dan Sastra Indonesia</span><span style="font-family:&quot;font-style:normal;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wandalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wandalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wandalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wandalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=24&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/tafsir-kosmologis-reog-ponorogo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MODAL POLITIK ANGGOTA DEWAN</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/modal-politik-anggota-dewan/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/modal-politik-anggota-dewan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tahun pemerintah mengalokasikan di APBN dana untuk partai politik. Anggaran ini tercantum pada Undang-undang Partai Politik No. 34 tahun 2003. Dana untuk partai politik sebesar Rp.1000/suara. Jadi misalnya untuk partai politik tertentu jika mendapatkan 5 juta suara berarti akan mendapat 5 Milyar dari pemerintah. Besaran dana ini tidak mencukupi bagi partai untuk melaksanakan program [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=23&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Setiap tahun pemerintah mengalokasikan di APBN dana untuk partai politik. Anggaran ini tercantum pada Undang-undang Partai Politik No. 34 tahun 2003. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dana untuk partai politik sebesar Rp.1000/suara. Jadi misalnya untuk partai politik tertentu jika mendapatkan 5 juta suara berarti akan mendapat 5 Milyar dari pemerintah. Besaran dana ini tidak mencukupi bagi partai untuk melaksanakan program kerja yang telah disusun sehingga mereka mencari alternatif sumber dana lain yaitu dari donasi pengusaha dan internal yaitu sumbangan anggota partai yang mencalonkan diri sebagai anggota dewan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Modal Politik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Menurut </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Staf Ahli Pemda Bandung (wawancara, 2006)</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">, untuk bisa menjadi anggota dewan, seorang anggota partai</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> harus mengeluarkan uang minimal di tingkat kota antara 50-100 juta per orang untuk bisa terdaftar pada daftar urut nomor 1 sedangkan ditingkat propinsi 100-200 juta dan ditingkat pusat DPR RI sekitar 200-500 juta bahkan ada yang diatas 1 Milyar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bagi anggota partai yang tidak mempunyai uang sebesar itu mereka memanfaatkan jaringan sosial yang ada disekitar mereka seperti dari pengusaha, perorangan atau badan. Batas sumbangan untuk badan tidak boleh lebih dari 500 juta atau perorangan tidak boleh lebih dari 70 juta. Jadi jika ingin menjadi anggota dewan ditingkat propinsi atau kota harus menyiapkan uang sebesar itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Uluran dana dari pemerintah ini menandakan bahwa partai politik masih belum mandiri. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh calon anggota dewan ini biasa disebut modal politik atau <em>cost </em>politik bukan money politik. <em>Cost</em> politik adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh anggota partai untuk kegiatan-kegiatan politik yang diikutinya.</p>
<p>Setiap anggota partai yang telah menjadi anggota dewan wajib menyisihkan beberapa persen gajinya kepada partai dimana dia dulu dicalonkan. Prosentase gaji yang diberikan berbeda-beda tergantung kebijakan partai masing-masing bisa 20% atau 30% dari gaji anggota dewan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Selain gaji pokok, anggota dewan mendapatkan uang dari tambahan-tambahan lain yang didapatkan secara legal seperti hearing, raperda, pembahasan undang-undang dan sebagainya. Walau di panduan etika anggota dewan dilarang menerima ’hadiah’ baik berbentuk uang, barang kecuali sekedar makan minum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Istilah etika dalam bahasa Yunani menurut Aristoteles (Haryatmoko, 2003:186) berarti baik-buruknya suatu sifat (kejahatan dan keutamaan). Dalam bahasa latin, kata Yunani ”ethikos” diterjemahkan menjadi ”mores” yang berarti kebiasaan. Etika dimengerti oleh sebagian masyarakat sebagai relfleksi filosofis tentang moral, yang membicarakan pertentangan antara yang baik dan yang buruk, dan dianggap sebagai nilai relatif. Etika menurut Paul Ricoeur (Haryatmoko, 2003 : 204) mengandung tiga tuntutan. <em>Pertama ,</em> upaya hidup baik bersama dan untuk orang lain. <em>Dua,</em> upaya memperluas lingkup kebebasan dan <em>Ketiga,</em> membangun institusi-institusi yang adil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tiga tuntutan dari etika diatas seharusnya dipahami dan dipenuhi oleh calon maupun anggota dewan dalam melaksanakan tugasnya. Bukan lagi menganggap etika sebagai aturan. Anggapan yang mensyaratkan pelanggaran dalam setiap pelaksanaannya. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Selain modal politik, calon anggota dewan pun harus mempertimbangkan latar belakang etnis yang dimilikinya. Hasil kajian yang dilakukan oleh LSI (2008), latar belakang etnis calon (kandidat) sedikit banyak mempengaruhi pilihan pemilih. Isu etnis membangun ikatan emosional dan menarik simpati massa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Latarbelakang Etnis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Etnis dominan perkotaan (urban) Bandung adalah etnis Sunda (Priangan), Jawa dan Batak (Tapanuli). Berikut data statistik jumlah penduduk berdasarkan etnis dan kabupaten/kota Bandung yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;margin-left:5.4pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;background:#999999 none repeat scroll 0;width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">No.</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:135.7pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="181" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Etnis (suku bangsa)</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:88.55pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sunda, Priangan</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:88.55pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jawa</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:88.6pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Batak, Tapanuli</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">1.</span></p>
</td>
<td style="width:135.7pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="181" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kabupaten (regency)</span></p>
</td>
<td style="width:88.55pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">3.842.694</span></p>
</td>
<td style="width:88.55pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">186.000</span></p>
</td>
<td style="width:88.6pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">22.852</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">2.</span></p>
</td>
<td style="width:135.7pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="181" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kota (municipality)</span></p>
</td>
<td style="width:88.55pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">1.625.373</span></p>
</td>
<td style="width:88.55pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">269.363</span></p>
</td>
<td style="width:88.6pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">37.467</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sumber : BPS Population of Jawa Barat, Result of The 2000 Population Census, h.75</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Menurut Prof. Jacob Soemardjo, budayawan (wawancara, 2006), etnis Sunda dibanding kedua etnis yang lain (Jawa atau Batak) lebih defensif, tidak agresif sehingga etnis Sunda tidak dominan dalam tubuh anggota dewan di daerah. Hal ini merupakan suatu paradoks dimana mereka tidak mempunyai ambisi untuk memperluas kesatuan wilayah otonomi. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Otonomi untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Tidak seperti di Jawa dimana produksi sebesar-besarnya, penduduk sebanyak-banyaknya dan wilayah yang juga harus seluas-luasnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pemerintahan di Sunda mempunyai pola tertentu dibandingkan beberapa wilayah lain seperti Bali atau Sulawesi. Pola yang harus dipusatkan bukan pembagian-pembagian seperti di daerah lain. Di daerah pedesaan, istilah <em>kabuyutan </em>masih kental dengan filsafah masyarakat Sunda <em>silih asah, silih asuh</em>. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Asah berarti menajamkan, memetakan, sedangkan asuh berarti melindungi. Oleh sebab itu di Sunda, perbedaan tetap dihargai tetapi kesatuan tetap dicapai. Menurut Prof. Jacob Soemardjo, pola pikir Sunda lebih banyak membedakan bukan dipisahkan. Di Kuningan dikenal dalam bahasa Jawa <em>roroning ngatunggal, tunggale dudu sawiji</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sistem Pemilihan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Di Jawa Barat, mayoritas suara pada pemilu 2004 dimenangkan oleh partai Golkar, PKS, Demokrat, PAN dan PKB. Dominasi figur lama masih dominan dalam bursa pencalonan. Berbagai cara dilakukan oleh partai untuk menjaring suara seperti permainan <em>money </em>politik atau memberikan janji-janji tetapi ada juga pemilih yang masih loyalis <em>(traditional voter).</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalam pemilu 2004 lalu, sistem pemilihan calon anggota dewan yang berlaku adalah nomor urut bukan proporsional daftar terbuka yaitu sebuah sistem pemilihan dimana kursi calon anggota dewan diperoleh dari suara terbanyak di suatu daerah pemilihan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Nomor urut ditentukan oleh kebijakan masing-masing partai politik melalui rapat pleno. Syarat untuk mendapatkan nomor urut adalah <em>pertama,</em> calon anggota dewan harus melakukan pembinaan konstituen di daerah pembinaan. <em>Yang kedua,</em> calon anggota dewan harus mampu mengkonsolidasikan tatib organisasi di daerah pemilihan, mampu membangun organisasi partai di suatu daerah yang belum terbentuk ranting atau cabang di tingkat kecamatan. <em>Ketiga,</em> latar belakang pendidikan dan pengalaman kepartaian. <em>Keempat,</em> siap memberikan kontribusi pada partai jika menang pemilu baik berbentuk sumbangan tunai atau natura dalam jumlah tertentu.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wandalistiani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wandalistiani.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wandalistiani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wandalistiani.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=23&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/modal-politik-anggota-dewan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SPIRIT KETIMURAN IBZ</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/spirit-ketimuran-ibz/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/spirit-ketimuran-ibz/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[“… tidak semua yang berbau Barat itu dengan sendirinya lebih baik daripada yang Timur miliki” (Imam Buchori Zainuddin, 2004:15) Bagi masyarakat seni rupa dan desain ITB, sosok Prof. Imam Buchori Zainuddin bukan nama yang asing. Beliau adalah Guru Besar ITB yang selalu dekat dengan spirit ketimuran. Bahkan sejak tanggal 1 April 2008 resmi ditetapkan ITB [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=22&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">“… tidak semua yang berbau Barat itu dengan sendirinya lebih baik </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">daripada yang Timur miliki” (Imam Buchori Zainuddin, 2004:15)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bagi masyarakat seni rupa dan desain ITB, sosok Prof. Imam Buchori Zainuddin bukan nama yang asing. Beliau adalah Guru Besar ITB yang selalu dekat dengan spirit ketimuran. Bahkan sejak tanggal 1 April 2008 resmi ditetapkan ITB sebagai Guru Besar Emeritus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tulisan yang menarik tentang spirit ketimuran dari<span> </span>Prof. Imam Buchori Zainuddin (selanjutnya saya singkat IBZ) yang berjudul <em>“Menggali Nilai Di Antara Dua Dunia : Kajian Arsitektural TH Bandung, Karya Maclaine Pont Dan Spiritnya Terhadap Budaya Akademik Di Institut Teknologi Bandung”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sebagian besar (karya) mempunyai nilai justru karena memenuhi keinginan pikiran. Menurut John Locke dalam Marx (2004:4), nilai (<em>worth</em>)<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> alamiah sesuatu karya terletak pada kemampuannya memenuhi kebutuhan yang diperlukan atau melayani kemudahan-kemudahan kehidupan manusia. Penilaian yang dilakukan oleh IBZ adalah kesan-kesan tentang ketimuran pada karya Maclaine Pont.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>“&#8230;saya mempunyai hipotesa arsitek ini sangat menyadari akan adanya sentimen politik, sosial dan budaya yang terjadi di tanah jajahan yang terjadi saat itu. Bila karyanya memperlihatkan spirit ketimuran yang sangat berbeda dengan umumnya karya arsitektur sejamannya terasa adanya kesadaran etis, bahkan pemberontakan bathin dalam diri Pont, seolah-olah dia membuat otokritik bahwa estetika Barat yang diterapkan oleh arsitek Belanda yang bergaya neoklasik (yang mentah-mentah mengetrapkan konsep Barat) terasa menjajah dalam alam/lingkungan budaya ketimuran”.</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> (Zainuddin, 2004:2)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kemudian dalam Zainuddin (2004:13),<em>”&#8230; mendongaknya ujung atap, selain bentuknya berciri Timur juga dimaksudkan sebagai ventilasi”. </em>Lanjutnya,<em> “Dibandingkan dengan bangunan pertamanya yang dibangun di Belanda ketika baru lulus, nampaknya setelah pulang dia lebih mendalami aspek-aspek spiritual arsitektur tradisional (Jawa khususnya)”. </em>Pada halaman 14, IBZ menuliskan, <em>”Disatu pihak dia membutuhkan sistim konstruksi yang memungkinkan mendapatkan luas ruangan tanpa interupsi tiang, dipihak lain dia ingin mempertahankan bentuk atap ketimuran”. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Di satu sisi<em> </em>ketidaktemuan ciri Timur dan ciri Barat dalam konsep gedung aula Barat/Timur T.H. Bandung, menurut Supadjar (2002:136) bersifat temporal serta kondisional. Artinya kemustahilan pertemuan Timur dan Barat itu tetap akan berlaku sampai kapanpun. Sedangkan menurut Locke (Magnis, 1992) bahwa apa yang kita ketahui melalui pengalaman itu bukanlah objek atau sesuatu yang mau kita ketahui itu sendiri, melainkan hanya kesan-kesannya inderawi pada retina. Oleh sebab itu hipotesa IBZ diatas condong kearah <em>subjektivisme.</em> <em>Subjektivisme,</em> bahwa tidak ada sesuatu yang objektif, jadi kecondongan ke arah <em>relativisme.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kerelatifan untuk menilai karya ketimuran Maclaine Pont ini terlihat pada halaman 8, IBZ menulis (Zainuddin, 2004:8), <em>“Penilaian dan prinsip moral tidak pernah merupakan buah hasil pemikiran murni, tapi selalu berasal dari individu-individu tertentu yang hidup dalam jaman tertentu dan ditempat yang tertentu, berasal dari keadaan historis.</em>.. <em>dan penilaian selalu bersifat relatif.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Nilai yang ingin ditekankan oleh IBZ dalam setiap pemikirannya tentang desain, juga sekaligus spirit ketimuran yang ingin dikedepankan pada karya Maclaine Pont (dalam hal ini Aula ITB/T.H Bandung) mempunyai nilai pakai untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Untuk membuatnya diperlukan jenis kegiatan produktif tertentu, yang ditentukan oleh tujuan, cara kerja, sasaran, alat dan hasilnya menjadi “bernilai” karena ada karya lain diluar dirinya. Seperti juga manusia, identitas diri atau nilai dirinya sebagai manusia hanya melalui hubungannya dengan orang lain. Nilai yang terbangun adalah mutlak. Nilai menurut <em>Le Trosne</em> dalam Marx (2004:4) terdiri atas hubungan pertukaran antara satu karya dan satu karya lain, antara sejumlah tertentu suatu karya dan sejumlah tertentu karya lainnya.<span style="color:green;"> </span>Obyektivitas sublimnya sebagai nilai <em>(wertgegenstandlichkeit) </em>berbeda dari keberadaannya yang kaku sebagai artefak, Aula ITB/T.H Bandung merupakan obyek nilai <em>(wertding).</em> <span style="color:green;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:green;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Begitu pula dengan penilaian estetis yang dilakukan IBZ pada karya Maclaine Pont (Zainuddin, 2004:15), <em>“&#8230; maka seolah-olah estetika aula tersebut telah menyelamatkan muka dan perasaan malu kita<span> </span>kepada dunia”. </em>Dalam kasus penilaian estetis ini, objek (Aula ITB/T.H Bandung) dinilai indah dari perasaan yang muncul pada diri IBZ (gaya dan bentuk arsitektural Aula ITB/T.H Bandung sesuai selera IBZ dan mungkin juga selera masyarakat ITB didalamnya), seperti apa yang didefinisikan oleh Kant dalam Passerin (2003:189), selera sebagai <em>“kemampuan untuk memperkirakan apa yang membuat perasaan kita ada dalam suatu representasi yang universal dan bisa berkomunikasi tanpa mediasi konsep”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kehebatan IBZ adalah keyakinannya akan kekuatan imajinasi dan pentingnya ingatan dalam penilaian. Imajinasi dan ingatan memberi sumber pembaruan secara terus menerus. Seperti juga Pont, IBZ adalah seorang desainer yang mengandalkan imajinasi dalam berkarya. Keyakinannya akan kekuatan imajinasi dan pentingnya ingatan dalam penilaian karya Pont bersumber dari pengalaman empiris beliau sebelumnya sehingga IBZ yakin untuk mengatakan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">“&#8230;Saya tekankan karena sebagai arsitek, layaknya juga seniman tatkala mencipta imajinasinya selalu menjelajah kemana-mana, terlebih lebih pada Pont yang tidak mungkin mempelajari site secara langsung yang menjadi referensi untuk menggubah adalah alam dalam memori, imajinasi dan obsesi”. </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(Zainuddin, 2004:13)<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Imajinasi memungkinkan kita untuk memandang segala sesuatu menurut perspektif yang tepat dan juga untuk menilai tanpa perlu menggunakan aturan atau universalitas yang sudah ada. Seperti diuraikan Arendt (Passerin, 2003:177), ”<em>Hanya imajinasi yang memungkinkan kita untuk melihat segala sesuatu menurut perspektif yang tepat, untuk membuat jarak bahkan dengan hal-hal yang teramat dekat, sehingga kita bisa memahaminya tanpa bias dan prasangka”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Menggunakan imajinasi untuk menciptakan kategori baru dan merumuskan penilaian tentang pelbagai peristiwa (yang menghasilkan karya) yang telah terjadi dan akan terjadi masa depan, mengingatkan kita pada takdir manusia yang dibedakan dari makhluk lainnya yaitu kemampuan untuk memulai hal baru. Bahkan sejak awal manusia diciptakan dimana sebelumnya tidak ada siapa pun. <em>Initium ergo ut esset, creatus est homo, antequem nullus fuit.</em> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Webdings;"><span>%</span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:&quot;">Magnis Suseno, Franz, 1992. <em>Filsafat sebagai Ilmu Kritis</em>, Yogyakarta : Kanisius</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:&quot;">Marx, Karl, 2004. <em>Kapital : Sebuah Kritik Ekonomi Politik</em>, Jakarta : Hasta Mitra</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Passerin d’Entreves, Maurizio, 2003. <em>Filsafat Politik Hannah Arendt,</em> Yogyakarta <span> </span>: Qalam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Supadjar, Damardjati, 2002<em>. Nawang Sari : Butir-butir Renungan Agama, <span> </span>Spiritualitas, Budaya, </em>Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Zainuddin, Imam Buchori, 2004. Makalah berjudul “Menggali Nilai Di Antara Dua Dunia : Kajian <span> </span>Arsitektural TH Bandung, Karya Maclain Pont Dan Spiritnya Terhadap Budaya Akademik Di Institut Teknologi Bandung&#8221;<em> </em>dalam <em>Workshop Dari THB Hingga ITB 2003</em>, Bandung : Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, 26-27 Januari 2004</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;"> Pada abad ke-17, kata <em>“worth” </em>digunakan untuk nilai pakai dan <em>“value” </em>untuk nilai tukar</span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=22&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/spirit-ketimuran-ibz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENELITI SEBELUM MENULIS</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/meneliti-sebelum-menulis/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/meneliti-sebelum-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat seseorang ingin menulis tentang sebuah fenomena budaya, dia akan melakukan pengamatan sekilas. Meskipun tanpa perangkat penelitian yang lengkap, seseorang ini telah dianggap meneliti. Cara seseorang mempelajari sesuatu atau mempelajari budaya tertentu baik secara langsung maupun melalui tulisan orang lain sebelumnya selalu terkait dengan penelitian (research), studi (study) atau kajian (analysis). Beberapa orang membedakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=21&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pada saat seseorang ingin menulis tentang sebuah fenomena budaya, dia akan melakukan pengamatan sekilas. Meskipun tanpa perangkat penelitian yang lengkap, seseorang ini telah dianggap meneliti. Cara seseorang mempelajari sesuatu atau mempelajari budaya tertentu baik secara langsung maupun melalui tulisan orang lain sebelumnya selalu terkait dengan penelitian (research), studi (study) atau kajian (analysis). <span> </span>Beberapa orang membedakan istilah penelitian, studi dan kajian menurut gradasi kedalaman pembahasan, kelengkapan perangkat pembahasan, aspek wilayah dan kegunaaan (Endraswara, 2006 : 2). Meneliti adalah langkah menjelaskan fenomena yang menggunakan kelengkapan dan langkah-langkah strategis sebelum melakukan kegiatan menulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">John Dewey dalam bukunya <em>How We Think</em> (Setiadi, 2006: 15) mengemukakan langkah pemecahan masalah, pertama, <em>a feeling of perplexy. </em>Kedua, <em>the definition of the problem. </em>Ketiga<em>, sugesting and testing hypotheses.</em> Keempat, <em>development of the best solusion by reasoning </em>dan<em>,</em> terakhir, <em>testing of the conclution followed by reconsideration of necessary.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Model pemecahan masalah dari John Dewey ini mendasari seorang penulis untuk melakukan penyelidikan sebelum menulis. Adapun tahapan penyelidikan sederhana dapat dilakukan seseorang diawal kegiatan menulis adalah merasakan adanya masalah, merumuskan masalah, membuat pertanyaan penelitian untuk memecahkan masalah, menetapkan sumber data, melakukan pengumpulan data atau informasi, melakukan klasifikasi dan analisis serta melakukan pembahasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Meneliti sebelum menulis dirasa perlu untuk menghindari duplikasi (plagiat) penulisan maupun ide yang sama sehingga pengulangan dengan tema yang sama bisa dihindari. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Lain halnya jika seseorang ingin menulis dengan tema yang sama tetapi pada konteks yang berbeda. Pengulangan tema dirasa perlu sebagai sebuah penegasan tentang munculnya pola-pola tertentu dalam siklus kehidupan yang menarik perhatian masyarakat pembaca. Tema-tema tulisan yang sekedar menuntut perhatian semata atau merupakan permasalahan bersama yang meminta penyelesaian segera. Cara yang paling sederhana untuk memahami tema-tema tersebut dan menghindari pengulangan (duplikasi atau plagiat) adalah membuat rekapitulasi dari semua tema-tema penulisan yang telah ditulis sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Namun demikian, dunia penulisan dan pembaca selalu berhubungan dengan persoalan baik-buruk atau layak-tidak layaknya sesuatu. Persoalan baik-buruk atau layak-tidak layaknya tulisan adalah persoalan nilai.<span> </span>Persoalan nilai jauh lebih rumit tatkala menyentuh persoalan selera, sehingga muncul adagium latin <em>”degustibus non disputandum”</em> atau selera tidak dapat diperdebatkan, tetapi ada alat ukur yang sama pada manusia yaitu akal dan pikiran untuk mempertimbangkannya, tahu apa yang dipilih, tahu mengapa harus memilih dan tahu risiko akibat pilihannya. Sayangnya, tidak setiap orang menyadari dan berlaku demikian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tulisan yang dikatakan ”baik” atau ”berkualitas” berarti mengandung nilai. Nilai bukan benda atau unsur benda, melainkan sifat, kualitas atau<em> sui-generis, </em>yang dimiliki objek tertentu yang dikatakan ”baik”. Menurut Husserl (Setiadi, 2006: 109) bahwa nilai milik semua objek, nilai tidaklah independen. Nilai menunjukkan sebuah pengakuan, objek yang dipermasalahkan, keuntungan yang diperoleh seperti kepentingan atau keinginan seseorang, tujuan yang dicapai dan sebuah hubungan antara penulis dengan orang lain baik keluarga, kelompok atau masyarakat tertentu bahkan pada profesinya sebagai penulis sekalipun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tulisan yang dinilai ”baik” atau ”berkualitas” inilah yang biasanya melalui sebuah proses pengamatan yang dikenal dengan istilah meneliti. Pertanyaannya kemudian, berapa banyak penulis di Indonesia yang melakukan penelitian, kajian atau studi sebelum menulis sebuah tulisan non fiksi -<em>artikel, opini, naskah buku-</em> atau, cerita fiksi <em>-novel, cerpen, cerbung dan sebagainya-?.</em> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span></span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Daftar Pustaka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Endraswara, Suwardi, 2006. <em>Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan : Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi,</em> Yogyakarta : Pustaka Widyatama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Setiadi, Elly M, 2006. <em>Ilmu Sosial dan Budaya Dasar</em>, Jakarta : Kencana</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wandalistiani.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wandalistiani.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wandalistiani.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wandalistiani.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=21&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/meneliti-sebelum-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GAYA REMAJA KOTA BANDUNG</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/gaya-remaja-kota-bandung/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/gaya-remaja-kota-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Berita mengejutkan tentang meninggalnya 10 korban konser musik underground di Asia Africa Culture Centre (AACC) Bandung, rata-rata berusia 16 s.d 21 tahun (KOMPAS, 10/2/2008). Batasan usia yang oleh WHO digolongkan ke dalam usia remaja akhir (15-24 tahun) atau sebagai usia pemuda (youth). Sebagai kelompok usia yang belum terbentuk jati dirinya, dinamis, cepat berubah dan paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=18&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Berita mengejutkan tentang meninggalnya 10 korban konser musik <em>underground</em> di Asia Africa Culture Centre (AACC) Bandung, rata-rata berusia 16 s.d 21 tahun (KOMPAS, 10/2/2008). <span> </span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Batasan usia yang oleh WHO digolongkan ke dalam usia remaja akhir (15-24 tahun) atau sebagai usia pemuda<em> (youth).</em> Sebagai kelompok usia yang belum terbentuk jati dirinya, dinamis, cepat berubah dan paling mudah menerima pengaruh baik positif maupun negatif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Oleh sebagian orang tua, usia remaja dianggap berbeda. Perbedaan terhadap nilai<span> </span>penundaan kesenangan pada perspektif waktu yang berbeda menimbulkan konflik antara keduanya. Perbedaan yang diperlihatkan dalam </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">aktivitas dan kepentingan antarindividu untuk menemukan identitas diri; siapa dan apa mereka.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Aktivitas Remaja Kota Bandung</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kota Bandung merupakan kota pelopor industri produk-produk fashion dan tekstil sejak tahun 1970-an. Kekuatan utama industri kreatif ini terletak pada desain, keragaman bahan baku, kekhususan merek, dan keunikan produk. Kekuatan ini dibuktikan dengan pemberitaan surat kabar KOMPAS (12/08/2007) bahwa pertumbuhan distro dan <em>clothing</em> di Indonesia sudah mencapai 750 unit, 300 unit diantaranya tersebar di Bandung dan pelaku usahanya berumur sekitar 20-30 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa ada kelompok remaja yang sudah mencoba berkreativitas dan terjun langsung sebagai pelaku dalam industri kreatif (pengusaha muda). <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Disisi lain, remaja </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun. Usia dimana seharusnya remaja menjalani pendidikan (sekolah, kursus) atau bekerja bagi yang tidak mampu. Menurut BPS (2005: 64-65), jumlah remaja yang bekerja <em>(working)</em> di kabupaten Bandung<span> </span>adalah 1.483.108 dan <span> </span>yang mencari kerja <em>(looking for work)</em> 308.760<em>. </em>Sedangkan di kota Bandung<em>, </em>jumlah remaja yang bekerja<em> (working) adalah<span> </span></em>878.590 dan yang mencari kerja <em>(looking for work)</em> 148.422. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Angka ini berbanding terbalik dengan jumlah remaja yang bersekolah di<span> </span>kabupaten Bandung yakni 549.090 siswa dan di kota Bandung sebanyak 400.057 siswa. Bandingkan dengan jumlah remaja siswa sekolah negeri dan swasta di sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), tingkat atas (SLTA), kejuruan di Bandung lima tahun sebelumnya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<div>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;margin-left:5.4pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;background:#999999 none repeat scroll 0;width:81.65pt;padding:0 5.4pt;" width="109" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:89.25pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="119" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">SLTP   Umum</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:89.25pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="119" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">SLTA   Umum</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:89.25pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="119" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">SLTA   Kejuruan</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:88pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="117" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sekolah   Islam</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:81.65pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="109" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
</td>
<td style="width:44.2pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="59" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Negeri</span></p>
</td>
<td style="width:45.05pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Swasta</span></p>
</td>
<td style="width:44.2pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="59" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Negeri</span></p>
</td>
<td style="width:45.05pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Swasta</span></p>
</td>
<td style="width:44.2pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="59" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Negeri</span></p>
</td>
<td style="width:45.05pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Swasta</span></p>
</td>
<td style="width:42.95pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="57" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Negeri</span></p>
</td>
<td style="width:45.05pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Swasta</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:81.65pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="109" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jumlah   Anak</span></p>
</td>
<td style="width:44.2pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="59" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">18.209</span></p>
</td>
<td style="width:45.05pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">53.299</span></p>
</td>
<td style="width:44.2pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="59" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">23.250</span></p>
</td>
<td style="width:45.05pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">26.917</span></p>
</td>
<td style="width:44.2pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="59" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">7.909</span></p>
</td>
<td style="width:45.05pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">19.261</span></p>
</td>
<td style="width:42.95pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="57" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">6.089</span></p>
</td>
<td style="width:45.05pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">23.852</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:81.65pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="109" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Total</span></p>
</td>
<td style="width:89.25pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="119" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">71.508</span></p>
</td>
<td style="width:89.25pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="119" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">50.167</span></p>
</td>
<td style="width:89.25pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="119" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">27.170</span></p>
</td>
<td style="width:88pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" colspan="2" width="117" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">29.941</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sumber : BPS, Jawa Barat dalam Angka, 2001/2002</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Banyaknya jumlah remaja yang bekerja dan mencari kerja (pengangguran) cukup memprihatinkan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Resmi Setia M.S (UNPAD, 2001), bahwa anggota komunitas musik <em>underground</em> di Bandung sebagian besar adalah remaja yang mempunyai cukup waktu luang (pengangguran).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bagaimana remaja kota memanfaatkan waktu luang merupakan gambaran suatu gaya hidup <em>(style life).</em> Gaya hidup dapat dicirikan melalui gaya atau <em>style. </em>Gaya mengekspresikan komitmen subkultur dan menunjukan keanggotaan pada komunitas tertentu. Phil Cohen (Brake, 1980 : 12-13) mendefinisikan gaya melalui tiga hal<span> </span>yaitu :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kesan, penampilan yang ditandai dengan pakaian, aksesori, gaya rambut, perhiasan dan artefak.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kelakuan, dibuat dari ungkapan, gaya berjalan dan sikap seseorang yang mengenakannya</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dialek, kosakata khusus dan bagaimana mereka menuturkannya</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="line-height:200%;"><span> </span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pemanfaatan waktu luang oleh remaja dipengaruhi oleh pola-pola, nilai dan kebiasaan dari gaya hidup dan latar belakang keluarga. Waktu luang adalah waktu dimana remaja dapat melakukan apa yang sesungguhnya ingin dilakukan dan bukan apa yang harus atau terpaksa dilakukan. Enwistle (1978: 167) menyatakan bahwa waktu luang tidak hanya sebagai sisa waktu ketika kewajiban ekonomi telah terpenuhi, tetapi lebih kepada suatu gaya hidup atau bahkan sebagai hidup itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Remaja Anggota Komunitas</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sebagian besar anggota komunitas di kota Bandung adalah remaja. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Baik komunitas <span> </span>musik (band), film, komik, motor (otomotif) dan <em>fashion.</em> Komunitas yang menawarkan nilai unik, terbatas, eksklusif dan <em>custom.</em> Nilai yang kemudian menjadi upaya untuk membentuk pasar dan produk baru. <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Komunitas yang menawarkan nilai diatas harus berlandaskan kebebasan, kemandirian, dan kesetaraan. Suatu kebebasan tanpa adanya tekanan-tekanan dari pihak luar. Hall yang paling mendasar dari setiap kebebasan adalah ketiadaan pemaksaan, ketiadaan perbudakan, ketiadaan penindasan. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Keinginan untuk mandiri, menyebabkan remaja membuat subkultur sendiri (komunitas) yang berbeda dari kultur pada umumnya. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Menurut Grinder (Resmi Setia, 2001) ada tiga jenis gaya remaja sebagai bagian dari kultur remaja <em>(youth culture) </em>yaitu </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Hedonisme, sejumlah anak muda akan menuruti kata hatinya, kesenangan</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kepuasan pada diri sendiri (<em>complacency</em></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">)</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pengasingan dan Protes (<em>Alienation and protest</em></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">), remaja yang sangat dikecewakan<span> </span>oleh kondisi-kondisi sosial saat ini, mereka mengekspresikan ketidakpuasan dengan menarik diri dari masyarakat atau secara aktif berusaha untuk mengubah beberapa kebijakan-kebijakan dan kebiasaan. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pengasingan biasanya ditunjukkan dalam berbagai bentuk protes, seperti anarki, pergerakan, apatis dan penarikan diri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kultur remaja ini diperkuat dengan kehidupan kota yang individualis, jumlah penduduk yang cukup besar dan heterogen. Berikut</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> data statistik jumlah penduduk kabupaten/kota Bandung berdasarkan etnis tiga besar yang dominan tinggal dan menetap yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;margin-left:5.4pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;background:#999999 none repeat scroll 0;width:36pt;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">No.</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:135.7pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="181" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Etnis (suku bangsa)</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:88.55pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sunda, Priangan</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:88.55pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jawa</span></p>
</td>
<td style="background:#999999 none repeat scroll 0;width:88.6pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Batak, Tapanuli</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">1.</span></p>
</td>
<td style="width:135.7pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="181" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kabupaten (regency)</span></p>
</td>
<td style="width:88.55pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">3.842.694</span></p>
</td>
<td style="width:88.55pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">186.000</span></p>
</td>
<td style="width:88.6pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">22.852</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:36pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="48" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">2.</span></p>
</td>
<td style="width:135.7pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="181" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kota (municipality)</span></p>
</td>
<td style="width:88.55pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">1.625.373</span></p>
</td>
<td style="width:88.55pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">269.363</span></p>
</td>
<td style="width:88.6pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="118" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">37.467</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sumber : BPS Population of Jawa Barat, Result of The 2000 Population Census, h.75</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Jumlah penduduk yang besar dan heterogen memungkinkan terbentuk bermacam-macam pranata, perkumpulan, surat kabar dan toko khusus (distro), misalnya yang melayani komunitas tertentu, memungkinkan mereka memiliki identitas yang jelas terlihat dan diakui untuk bertindak bersama serta berinteraksi secara intensif satu sama lainnya. Persentuhan antar subkultur dianggap oleh anggotanya sebagai ancaman, serangan atau keduanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Minimalisme Gerakan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Musik <em>underground </em>merupakan bentuk musik minimalis (lyrik sederhana tetapi agresif). Musik yang melakukan perlawanan terhadap kemapanan masyarakat. Kurangnya keahlian teknis bermusik bukan menjadi hambatan untuk menggelar sebuah konser musik <em>underground. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Gerakan menentang ini tidak hanya lewat musik tetapi juga gaya berpakaian <em>(fashion) </em>dan gaya rambut yang khas model <em>mohawk,</em> model paku dll. Gaya rambut dengan </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">warna-warni dan gaya berpakaian menurut Brake (1980:80) didasari oleh ide perbudakan dan seksual fetisisme. <em>Fetish</em> dalam Yasraf A Piliang (2003: 291) berarti pesona, daya pikat atau sihir. Marx menggunakan istilah ini untuk menjelaskan segala sesuatu yang dipuja tanpa alasan akal sehat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Gaya</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> berpakaian dengan atribut yang menghiasi pakaian serta tubuh seperti <em>spike </em>atau paku, rantai serta peniti yang dikenakan di telinga, bibir, hidung semakin menegaskan perbedaan gaya penampilan remaja penggemar musik <em>underground </em>dengan remaja pada umumnya. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wandalistiani.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wandalistiani.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wandalistiani.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wandalistiani.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=18&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/gaya-remaja-kota-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEDAGANG KAKI LIMA DAN LAPANGAN KERJA JABAR</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/pedagang-kaki-lima-dan-lapangan-kerja-jabar/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/pedagang-kaki-lima-dan-lapangan-kerja-jabar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:28:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Janji-janji calon pasangan terpilih Cagub Jabar tentang penyediaan lapangan kerja merupakan harapan besar bagi seluruh warga Jabar. Harapan untuk mendapatkan kehidupan lebih baik dengan pekerjaan yang ‘baik’ pula. Pekerjaan yang baik diasumsikan tidak hanya pada sektor formal melainkan informal. Seperti yang diharapkan pedagang kecil Usep, &#8220;Siapa pun yang terpilih, kami sangat mengharapkan pemimpin yang mampu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=17&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Janji-janji calon pasangan terpilih Cagub Jabar tentang penyediaan lapangan kerja merupakan harapan besar bagi seluruh warga Jabar. Harapan untuk mendapatkan kehidupan lebih baik dengan pekerjaan yang ‘baik’ pula. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pekerjaan yang baik diasumsikan tidak hanya pada sektor formal melainkan informal. Seperti yang diharapkan pedagang kecil Usep, <em>&#8220;Siapa pun yang terpilih, kami sangat mengharapkan pemimpin yang mampu melindungi orang kecil, khususnya kami pelaku pasar tradisional. Keberpihakan itu salah satunya diwujudkan dengan terbentuknya peraturan daerah yang melindungi pasar tradisional”.</em> (KOMPAS, Suplemen Jabar, 14/04/2008)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sejak tahun 70an, sektor kerja informal dikenal oleh masyakat sebagai </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">sektor yang kurang mendapat dukungan pemerintah daerah, tidak tercatat secara resmi, dan beroperasi diluar aturan pemerintah daerah, secara otomatis dukungan pemerintah daerah akan diarahkan untuk mengformalisasi sektor ini. Pendekatan ini juga berasumsi bahwa satu-satunya hambatan sektor informal untuk tumbuh adalah sikap negatif dari pemerintah daerah terhadap sektor ini. Oleh karena itu, dukungan pemerintah daerah dianggap bisa menjadi jaminan sukses. Hal ini mengabaikan kompetisi yang kompleks dan hubungan tidak seimbang antara usaha kecil dan usaha besar dan berbagai strategi monopoli untuk menekan kompetisi usaha kecil.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kegiatan-kegiatan informal adalah sebuah cara untuk melakukan sesuatu yang dicirikan: (1) mudah masuk, (2) bersandar pada sumber daya lokal, (3) usaha milik keluarga, (4) operasi skala kecil, (5) padat karya dan <em>adapted technology</em>, (6) ketrampilan diperoleh diluar sistem formal sekolah, (7) tidak diatur dan pasar kompetitif. Sehingga terdapat kecenderungan untuk menyamakan sektor informal perkotaan dengan<em> ‘urban poor.’ </em>Padahal tidak semua yang bekerja di sektor informal adalah orang miskin demikian juga sebaliknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sektor informal di Jawa Barat yang sering kali dianggap sebagai komunitas marjinal meliputi pedagang kaki lima (PKL), becak, <em>difable (people with different ability),</em> penata parkir, pengamen dan anak jalanan, pedagang pasar, dan pekerja seks komersial (PSK).<span> </span>Mengacu pada definisi sektor informal, berbagai komunitas ini kecuali <em>difabel </em>termasuk dalam sektor informal perkotaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pedagang Kali Lima</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) <span> </span>memerlukan perubahan lebih mendalam dan lebih mendasar daripada hanya sekedar pemberian kredit murah, latihan ketrampilan dan bantuan teknis pada perusahaan-perusahaan sektor informal tertentu. Perubahan dalam kaitan-kaitan vertikal masih minim, seperti peraturan pemerintah daerah dan hubungan kelembagaan yang mempengaruhi perusahaan-perusahaan kecil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Setiap kebijakan harus memperhatikan sistem keseluruhan bukan hanya bagian hirarki yang rendah. Hal ini dikarenakan pedagang kali lima (PKL) di Jawa Barat mempunyai karakteristik. <em>Pertama,</em> <em>aspek ekonomi</em>; PKL merupakan kegiatan ekonomi skala kecil dengan modal relatif minim. Aksesnya terbuka sehingga mudah dimasuki usaha baru, konsumen lokal dengan pendapatan menengah ke bawah, teknologi sederhana/tanpa teknologi, jaringan usaha terbatas, kegiatan usaha dikelola satu orang atau usaha keluarga dengan pola manajemen yang relatif tradisional. Selain itu, jenis komoditi yang diperdagangkan cenderung komoditi yang tidak tahan lama seperti makanan dan minuman. <em>Kedua, aspek Sosial-budaya;</em> sebagian besar pelaku berpendidikan rendah dan migran (pendatang) dengan jumlah anggota rumah tangga yang besar. Mereka juga bertempat tinggal di pemukiman kumuh. <em>Ketiga</em>, <em>aspek Lingkungan;</em> kurang memperhatikan kebersihan dan berlokasi di tempat yang padat lalu lintas. Jumlah PKL dari tahun ke tahun disinyalir terus mengalami peningkatan akibat tingginya angka urbanisasi dan terbatasnya jumlah penyerapan tenaga kerja di sektor formal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Ketidakberhasilan kebijakan dan program pemerintah daerah Jabar dalam mengembangkan PKL terkait dengan berbagai hal, seperti (1) pendekatan pemerintah daerah yang masih bersifat <em>“supply-side” oriented</em> (pengaturan, penataan, dan bantuan terhadap PKL dilakukan tanpa melakukan komunikasi dan kerjasama dengan PKL sendiri), (2) pelaksanaan kebijakan/program bagi PKL sarat dengan keterlibatan berbagai aparat “pembina,” dan (3) penertiban dan pengendalian PKL lebih didasari pada adanya keterlibatan pemerintah daerah dalam pelaksanaan proyek daripada semangat membangun sektor informal sebagai salah satu basis perekonomian rakyat. Hal konkrit yang bisa dilihat akibat berbagai hal tersebut adalah kesulitan PKL untuk mengakses modal/kredit yang disediakan pemerintah daerah, sedikitnya PKL yang pernah mengikuti pembinaan usaha karena kurangnya sosialisasi pemerintah daerah mengenai program ini, dan penolakan relokasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Di Ujung jalan Cikutra – Ahmad Yani seputar Pasar Cicadas Bandung, sejak dulu ramai oleh pedagang-pedagang makanan goreng-gorengan seperti, martabak, combro goring, roti bakar, ayam bakar, dll. Perpindahan lokasi yang dialami para pedagang pasar menyebabkan hilangnya langganan. Kehilangan langganan bagi pedagang dianggap sebagai masalah yang mendasar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Berdasarkan berbagai ciri, masalah dan kegagalan kebijakan/program pemerintah daerah dalam menangani PKL tersebut, penulis merekomendasikan model pengembangan sektor informal PKL melalui kerjasama PKL, pihak swasta, dan pemerintah daerah. Inisiatif pembentukan organisasi dalam suatu lokasi usaha datang dari PKL sendiri. Pemberian modal dari pihak swasta dan/atau pemerintah daerah bisa dilakukan melalui organisasi PKL (koperasi, kelompok dagang, dsb) atau secara terpisah kepada PKL yang tidak bergabung ke dalam wadah ini. Kemudian melalui kebijakan PEMDA memberikan perlindungan, pembinaan, dan bimbingan kepada setiap PKL (anggota maupun non-anggota).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kebijakan Pemerintah Daerah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kebijakan yang kondusif menjadi dasar utama agar model pengembangan sektor informal PKL bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Penulis membagi dua level kebijakan yaitu di tingkat makro dan mikro. Kebijakan makro dapat berupa pengakuan dan perlindungan PEMDA terhadap keberadaan sektor ini diperkotaan. Hal yang mendesak untuk dilakukan adalah merubah iklim kebijakan pemerintah daerah dari yang bersifat elitis menjadi non-elitis kerakyatan. Kebijakan non-elitis dapat diwujudkan dengan dimantapkannya aspek hukum perlindungan bagi keberadaan PKL, perbaikan kelembagaan dan administrasi ke arah non-birokratis dan mempermudah akses PKL terhadap sumber-sumber ekonomi yang tersedia. Di tingkat mikro diperlukan upaya untuk mengkaitkan produktivitas dan tingkat pendapatan usaha PKL. Cara yang dapat ditempuh: (1) peningkatan efisensi ekonomi dari usaha PKL, (2) peningkatan produksi usaha dagang, (3) meningkatkan usaha PKL yang kurang potensial menjadi usaha yang lebih ekonomis potensial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Perkembangan sektor informal perkotaan tidak terlepas dari tingginya arus migrasi desa-kota dan terbatasnya kesempatan kerja di sektor formal terutama bagi penduduk yang berpendidikan, berketrampilan rendah, dan berusia non-produktif. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wandalistiani.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wandalistiani.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wandalistiani.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wandalistiani.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=17&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/pedagang-kaki-lima-dan-lapangan-kerja-jabar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaukah Itu..</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/kaukah-itu/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/kaukah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Kaukah itu yang berada di seberang sana. Tanganku melambai berharap kau melihatnya. Sebuah panggilan. Berharap kau datang padaku. Saat ini aku ingin bertemu. Bercerita tentang harapku padamu. Kau yang selalu ada pada setiap malamku. Kutunggu..<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=15&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaukah itu yang berada di seberang sana. Tanganku melambai berharap kau melihatnya. Sebuah panggilan. Berharap kau datang padaku. Saat ini aku ingin bertemu. Bercerita tentang harapku padamu. Kau yang selalu ada pada setiap malamku. Kutunggu..</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wandalistiani.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wandalistiani.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wandalistiani.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wandalistiani.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=15&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/kaukah-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MOMENTUM POSTMODERN</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/momentum-postmodern/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/momentum-postmodern/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 07:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya Kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Momentum ini secara khas terwujud melalui konsep-konsep seperti emerjensi, kreasi, kontestasi, pemberdayaan, negosiasi, resisteansi, ketidaktetapan, reinvensi, rekonstruksi dan transformasi. Momentum postmodern juga tidak hanya bercirikan gerakan anti kemapanan tradisi, kebudayaan, masyarakat atau struktur pada umumnya, tapi juga kecenderungan untuk mengangkat harkat kaum marginal. Momentum postmodern menawarkan konsep &#8220;kesezamanan&#8221; (coevalness) yaitu kelompok masyarakat yang berbeda tahap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=14&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Momentum ini secara khas terwujud melalui konsep-konsep seperti emerjensi, kreasi, kontestasi, pemberdayaan, negosiasi, resisteansi, ketidaktetapan, reinvensi, rekonstruksi dan transformasi. Momentum postmodern juga tidak hanya bercirikan gerakan anti kemapanan tradisi, kebudayaan, masyarakat atau struktur pada umumnya, tapi juga kecenderungan untuk mengangkat harkat kaum marginal.</p>
<p>Momentum postmodern menawarkan konsep &#8220;kesezamanan&#8221; (coevalness) yaitu kelompok masyarakat yang berbeda tahap kemajuan kebudayaan namun hidup pada zaman yang sama bukan isu dikotomi sebagaimana dikonsepsikan para modernis, melainkan berkembangnya satu sistem global dalam satu kerangka waktu yang membawa semua penduduk dunia ke dalam satu kerangka tersebut.</p>
<p>Isu adaptasi, dampak sistem global dan etika menjadi penting.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wandalistiani.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wandalistiani.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wandalistiani.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wandalistiani.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=14&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/momentum-postmodern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERPIKIR KRITIS</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/berpikir-kritis/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/berpikir-kritis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 02:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruparupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/berpikir-kritis/</guid>
		<description><![CDATA[Masih melekat dalam ingatan saya, pertanyaan adik sepupu yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas tentang berpikir kritis, ”Mba, kalau menjadi mahasiswa harus kritis ya?” atau ”Kalau sambil kerja kita boleh kritis ngga mba?”.  Waktu itu saya tidak tahu jawaban apa yang tepat untuknya. Apa yang dimaksud dengan kata kritis dalam pikirannya?. Dan kritis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=11&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Masih melekat dalam ingatan saya, pertanyaan adik sepupu yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas tentang berpikir kritis, ”Mba, kalau menjadi mahasiswa harus kritis ya?” atau ”Kalau sambil kerja kita boleh kritis ngga mba?”.<span>  </span>Waktu itu saya tidak tahu jawaban apa yang tepat untuknya. Apa yang dimaksud dengan kata kritis dalam pikirannya?. Dan kritis terhadap apa?.</span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';"> </span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Saya seorang mahasiswa perguruan tinggi terkenal di kota Bandung, saya juga pernah sekolah menengah tapi waktu itu saya tidak pernah bertanya macam-macam. Saya hanya bisa mengangguk apa yang bapak atau ibu guru katakan. Saya tidak pernah bertanya kenapa begitu dan mengapa begini?. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Berbeda dengan dulu, saya tidak bisa berdiam diri. Berbagai buku telah meracuni pikiran saya. Buku-buku itu mengajak saya untuk berpikir tentang apa yang telah dan akan terjadi. Di sebuah perpustakaan, saya menemukan arti kritis dalam <i>Kamus Besar Bahasa Indonesia </i>(1989:466), kritis merupakan sifat yang tidak dapat lekas percaya, bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; tajam di penganalisisan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Tidak lekas percaya, berusaha menemukan kesalahan dan tajam dalam menganalisis apakah hanya itu?. <i>Endarmoko </i>dalam<i> Tesaurus Bahasa Indonesia </i>(2006:339), menyebut kritis sebagai tajam, teliti, peka, perseptif, responsif, tanggap dan vokal. Kata kritis sangat dekat dengan keras, ketus, menusuk, menyakitkan, pedas dan sederetan kata yang mengandung makna negatif lainnya. Saya pun mengangguk-angguk setuju tentang kedekatan kata itu. Sikap kritis kadang membuat diri kita harus mengorbankan studi, karir, nyawa seperti yang ada di koran-koran. Seorang buruh ditemukan tewas mengenaskan, kegiatan mahasiswa harus dibekukan untuk sementara, atau seorang karyawan diberhentikan secara mendadak karena kekritisan mereka terhadap berbagai aturan-aturan yang berlaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Kata kritis juga dekat dengan seseorang yang suka meneliti. Seseorang yang tidak jauh dengan kegiatan mengamati, menekuni, mengobservasi, mempelajari dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Kegiatan yang selalu saya jumpai dalam kuliah, di setiap tugas-tugas desain atau pun tugas akhir; mempelajari fenomena desain, mengamati terbatasnya ruang bermain anak, menekuni teori estetika, mengobservasi tekstil majalaya dan berbagai kegiatan yang menuntut saya bertanya, mengapa, dimana, kapan, bagaimana, siapa menjadi subyek dan obyeknya. Atau kadang saya berpikir struktural mencari kata-kata yang bermakna seperti siang-malam, baik-buruk, untung-rugi, pintar-bodoh, kaya-miskin. Tidak hanya berhenti pada satu kata melainkan apa relasi antara satu kata dengan kata lain, satu istilah dengan istilah lain, terus berulang-ulang sampai saya menemukan jawaban dalam keterulangan yang menurut saya sebagai tanda atau simbol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Menurut J.S. Badudu (2005:20) kata kritis termasuk dalam kata-kata serapan. Kata-kata yang memberi penawaran makna. Ketika membaca definisi kritis adalah keadaan krisis, gawat atau genting. Saya akan membaliknya pada sebuah pengalaman sebagai mahasiswa atau pun sebagai seorang karyawan, keadaan krisis, gawat atau genting itulah yang membuat saya berpikir kritis. Dengan kata lain, saya akan berpikir kritis ketika saya merasa terdesak atau dalam keadaan genting. Sikap kritis itu begitu saja muncul seperti ide atau <i>mood </i>yang begitu saja menggerakkan semua organ tubuh untuk merespon keadaan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Sampai disini, saya pun semakin penasaran dengan kata kritis itu. Apalagi yang ditawarkan darinya?. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Century Gothic';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Bahan Bacaan :</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Badudu, J.S., 2005.<i> Kamus Kata-kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia, </i>Jakarta : Buku Kompas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Endarmoko, Eko, 2006.<i> Tesaurus Bahasa Indonesia,</i> Jakarta : Gramedia Pustaka Utama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Century Gothic';">Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989. <i>Kamus Besar Bahasa Indonesia,</i> Jakarta : Balai Pustaka</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wandalistiani.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wandalistiani.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wandalistiani.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wandalistiani.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&amp;blog=2922385&amp;post=11&amp;subd=wandalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/berpikir-kritis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
