<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Wanda Listiani &#187; Desain</title>
	<atom:link href="http://wandalistiani.wordpress.com/category/desain/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wandalistiani.wordpress.com</link>
	<description>Berbagi Ilmu Dari Yang Tak Terbagi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Sep 2008 05:40:59 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='wandalistiani.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/827ed2e01b296901783e18c36ba32b49?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Wanda Listiani &#187; Desain</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wandalistiani.wordpress.com/osd.xml" title="Wanda Listiani" />
		<item>
		<title>SPIRIT KETIMURAN IBZ</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/spirit-ketimuran-ibz/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/spirit-ketimuran-ibz/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[“… tidak semua yang berbau Barat itu dengan sendirinya lebih baik 
daripada yang Timur miliki” (Imam Buchori Zainuddin, 2004:15)
 
Bagi masyarakat seni rupa dan desain ITB, sosok Prof. Imam Buchori Zainuddin bukan nama yang asing. Beliau adalah Guru Besar ITB yang selalu dekat dengan spirit ketimuran. Bahkan sejak tanggal 1 April 2008 resmi ditetapkan ITB [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&blog=2922385&post=22&subd=wandalistiani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">“… tidak semua yang berbau Barat itu dengan sendirinya lebih baik </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;" align="right"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">daripada yang Timur miliki” (Imam Buchori Zainuddin, 2004:15)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bagi masyarakat seni rupa dan desain ITB, sosok Prof. Imam Buchori Zainuddin bukan nama yang asing. Beliau adalah Guru Besar ITB yang selalu dekat dengan spirit ketimuran. Bahkan sejak tanggal 1 April 2008 resmi ditetapkan ITB sebagai Guru Besar Emeritus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tulisan yang menarik tentang spirit ketimuran dari<span> </span>Prof. Imam Buchori Zainuddin (selanjutnya saya singkat IBZ) yang berjudul <em>“Menggali Nilai Di Antara Dua Dunia : Kajian Arsitektural TH Bandung, Karya Maclaine Pont Dan Spiritnya Terhadap Budaya Akademik Di Institut Teknologi Bandung”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sebagian besar (karya) mempunyai nilai justru karena memenuhi keinginan pikiran. Menurut John Locke dalam Marx (2004:4), nilai (<em>worth</em>)<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> alamiah sesuatu karya terletak pada kemampuannya memenuhi kebutuhan yang diperlukan atau melayani kemudahan-kemudahan kehidupan manusia. Penilaian yang dilakukan oleh IBZ adalah kesan-kesan tentang ketimuran pada karya Maclaine Pont.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>“&#8230;saya mempunyai hipotesa arsitek ini sangat menyadari akan adanya sentimen politik, sosial dan budaya yang terjadi di tanah jajahan yang terjadi saat itu. Bila karyanya memperlihatkan spirit ketimuran yang sangat berbeda dengan umumnya karya arsitektur sejamannya terasa adanya kesadaran etis, bahkan pemberontakan bathin dalam diri Pont, seolah-olah dia membuat otokritik bahwa estetika Barat yang diterapkan oleh arsitek Belanda yang bergaya neoklasik (yang mentah-mentah mengetrapkan konsep Barat) terasa menjajah dalam alam/lingkungan budaya ketimuran”.</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> (Zainuddin, 2004:2)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kemudian dalam Zainuddin (2004:13),<em>”&#8230; mendongaknya ujung atap, selain bentuknya berciri Timur juga dimaksudkan sebagai ventilasi”. </em>Lanjutnya,<em> “Dibandingkan dengan bangunan pertamanya yang dibangun di Belanda ketika baru lulus, nampaknya setelah pulang dia lebih mendalami aspek-aspek spiritual arsitektur tradisional (Jawa khususnya)”. </em>Pada halaman 14, IBZ menuliskan, <em>”Disatu pihak dia membutuhkan sistim konstruksi yang memungkinkan mendapatkan luas ruangan tanpa interupsi tiang, dipihak lain dia ingin mempertahankan bentuk atap ketimuran”. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Di satu sisi<em> </em>ketidaktemuan ciri Timur dan ciri Barat dalam konsep gedung aula Barat/Timur T.H. Bandung, menurut Supadjar (2002:136) bersifat temporal serta kondisional. Artinya kemustahilan pertemuan Timur dan Barat itu tetap akan berlaku sampai kapanpun. Sedangkan menurut Locke (Magnis, 1992) bahwa apa yang kita ketahui melalui pengalaman itu bukanlah objek atau sesuatu yang mau kita ketahui itu sendiri, melainkan hanya kesan-kesannya inderawi pada retina. Oleh sebab itu hipotesa IBZ diatas condong kearah <em>subjektivisme.</em> <em>Subjektivisme,</em> bahwa tidak ada sesuatu yang objektif, jadi kecondongan ke arah <em>relativisme.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kerelatifan untuk menilai karya ketimuran Maclaine Pont ini terlihat pada halaman 8, IBZ menulis (Zainuddin, 2004:8), <em>“Penilaian dan prinsip moral tidak pernah merupakan buah hasil pemikiran murni, tapi selalu berasal dari individu-individu tertentu yang hidup dalam jaman tertentu dan ditempat yang tertentu, berasal dari keadaan historis.</em>.. <em>dan penilaian selalu bersifat relatif.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Nilai yang ingin ditekankan oleh IBZ dalam setiap pemikirannya tentang desain, juga sekaligus spirit ketimuran yang ingin dikedepankan pada karya Maclaine Pont (dalam hal ini Aula ITB/T.H Bandung) mempunyai nilai pakai untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Untuk membuatnya diperlukan jenis kegiatan produktif tertentu, yang ditentukan oleh tujuan, cara kerja, sasaran, alat dan hasilnya menjadi “bernilai” karena ada karya lain diluar dirinya. Seperti juga manusia, identitas diri atau nilai dirinya sebagai manusia hanya melalui hubungannya dengan orang lain. Nilai yang terbangun adalah mutlak. Nilai menurut <em>Le Trosne</em> dalam Marx (2004:4) terdiri atas hubungan pertukaran antara satu karya dan satu karya lain, antara sejumlah tertentu suatu karya dan sejumlah tertentu karya lainnya.<span style="color:green;"> </span>Obyektivitas sublimnya sebagai nilai <em>(wertgegenstandlichkeit) </em>berbeda dari keberadaannya yang kaku sebagai artefak, Aula ITB/T.H Bandung merupakan obyek nilai <em>(wertding).</em> <span style="color:green;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:green;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Begitu pula dengan penilaian estetis yang dilakukan IBZ pada karya Maclaine Pont (Zainuddin, 2004:15), <em>“&#8230; maka seolah-olah estetika aula tersebut telah menyelamatkan muka dan perasaan malu kita<span> </span>kepada dunia”. </em>Dalam kasus penilaian estetis ini, objek (Aula ITB/T.H Bandung) dinilai indah dari perasaan yang muncul pada diri IBZ (gaya dan bentuk arsitektural Aula ITB/T.H Bandung sesuai selera IBZ dan mungkin juga selera masyarakat ITB didalamnya), seperti apa yang didefinisikan oleh Kant dalam Passerin (2003:189), selera sebagai <em>“kemampuan untuk memperkirakan apa yang membuat perasaan kita ada dalam suatu representasi yang universal dan bisa berkomunikasi tanpa mediasi konsep”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kehebatan IBZ adalah keyakinannya akan kekuatan imajinasi dan pentingnya ingatan dalam penilaian. Imajinasi dan ingatan memberi sumber pembaruan secara terus menerus. Seperti juga Pont, IBZ adalah seorang desainer yang mengandalkan imajinasi dalam berkarya. Keyakinannya akan kekuatan imajinasi dan pentingnya ingatan dalam penilaian karya Pont bersumber dari pengalaman empiris beliau sebelumnya sehingga IBZ yakin untuk mengatakan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">“&#8230;Saya tekankan karena sebagai arsitek, layaknya juga seniman tatkala mencipta imajinasinya selalu menjelajah kemana-mana, terlebih lebih pada Pont yang tidak mungkin mempelajari site secara langsung yang menjadi referensi untuk menggubah adalah alam dalam memori, imajinasi dan obsesi”. </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(Zainuddin, 2004:13)<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Imajinasi memungkinkan kita untuk memandang segala sesuatu menurut perspektif yang tepat dan juga untuk menilai tanpa perlu menggunakan aturan atau universalitas yang sudah ada. Seperti diuraikan Arendt (Passerin, 2003:177), ”<em>Hanya imajinasi yang memungkinkan kita untuk melihat segala sesuatu menurut perspektif yang tepat, untuk membuat jarak bahkan dengan hal-hal yang teramat dekat, sehingga kita bisa memahaminya tanpa bias dan prasangka”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Menggunakan imajinasi untuk menciptakan kategori baru dan merumuskan penilaian tentang pelbagai peristiwa (yang menghasilkan karya) yang telah terjadi dan akan terjadi masa depan, mengingatkan kita pada takdir manusia yang dibedakan dari makhluk lainnya yaitu kemampuan untuk memulai hal baru. Bahkan sejak awal manusia diciptakan dimana sebelumnya tidak ada siapa pun. <em>Initium ergo ut esset, creatus est homo, antequem nullus fuit.</em> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Webdings;"><span>%</span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:&quot;">Magnis Suseno, Franz, 1992. <em>Filsafat sebagai Ilmu Kritis</em>, Yogyakarta : Kanisius</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:&quot;">Marx, Karl, 2004. <em>Kapital : Sebuah Kritik Ekonomi Politik</em>, Jakarta : Hasta Mitra</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Passerin d’Entreves, Maurizio, 2003. <em>Filsafat Politik Hannah Arendt,</em> Yogyakarta <span> </span>: Qalam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Supadjar, Damardjati, 2002<em>. Nawang Sari : Butir-butir Renungan Agama, <span> </span>Spiritualitas, Budaya, </em>Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Zainuddin, Imam Buchori, 2004. Makalah berjudul “Menggali Nilai Di Antara Dua Dunia : Kajian <span> </span>Arsitektural TH Bandung, Karya Maclain Pont Dan Spiritnya Terhadap Budaya Akademik Di Institut Teknologi Bandung&#8221;<em> </em>dalam <em>Workshop Dari THB Hingga ITB 2003</em>, Bandung : Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, 26-27 Januari 2004</span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:9pt;font-family:&quot;"> Pada abad ke-17, kata <em>“worth” </em>digunakan untuk nilai pakai dan <em>“value” </em>untuk nilai tukar</span></p>
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&blog=2922385&post=22&subd=wandalistiani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/05/12/spirit-ketimuran-ibz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GEISHA KARYA SENI BERGERAK</title>
		<link>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/geisha-karya-seni-bergerak/</link>
		<comments>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/geisha-karya-seni-bergerak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 02:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/geisha-karya-seni-bergerak/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;GEISHA adalah artis. Menjadi geisha adalah menjadi sebuah karya seni yang bergerak. Kita menciptakan sebuah dunia rahasia,
 tempat di mana yang ada hanyalah keindahan&#8221; 
(Mameha, Memoirs of Geisha)


 
            Memoirs of a Geisha (2005) yang diadaptasi dari novel bertajuk sama karya Arthur Golden dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&blog=2922385&post=9&subd=wandalistiani&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><i><span>&#8220;GEISHA adalah artis. Menjadi geisha adalah menjadi sebuah karya seni yang bergerak. Kita menciptakan sebuah dunia rahasia,</span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><i><span><span> </span>tempat di mana yang ada hanyalah keindahan&#8221; </span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span>(Mameha, Memoirs of Geisha)<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><i><span><span>            </span>Memoirs of a Geisha (2005)</span></i><span> yang diadaptasi dari novel bertajuk sama karya Arthur Golden dan disutradarai Rob Marshall ini memang luar biasa. Terbukti dengan diraihnya penghargaan BAFTA (<i>British Academy of Film and Television Arts</i>) dan <i>Academy Award (Piala Oscar)</i> berupa musik, sinematografi dan desain kostum terbaik. </span><span><span> </span></span><b><span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span>Menonton <i>Memoirs of Geisha</i> adalah menyaksikan sebuah pengalaman hidup seorang geisha. Cinta, harapan, dan takdir memang tak selalu sejalan beriringan. Lewat film ini, jawaban seakan-akan disodorkan pada penonton menyangkut apa itu geisha. Geisha bukanlah pelacur. Ia tak lain adalah seniman atau artis yang dituntut menguasai berbagai keahlian menghibur, main musik dan menari. Pada akhirnya, geisha menjadi bagian penting dalam kehidupan borjuis Jepang kala itu. Perannya tidak bisa dianggap sebelah mata. Aura sensualitas menjadikannya pemikat. Menjadikannya sebagai bagian dari kultur dan khasanah serta tradisi Jepang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;margin:9pt 0;"><span><span>            </span></span><span>G<i>eisha</i> berasal dari kata dalam bahasa Jepang <i>gei</i> yang berarti seni. Seorang <i>geisha</i> terlatih menyanyi, menari, dan memainkan musik seperti kecapi. </span><span>G<i>eisha</i> merupakan sumber pesona di negara asalnya, Jepang, dan mancanegara. G<i>eisha</i> bukan wanita tunasusila yang wajahnya berlumur make-up putih dan mengenakan kimono dari bahan sutra saja, melainkan seorang wanita yang mencari nafkah dengan menghibur para pria berkedudukan tinggi. <i>Geisha</i> juga harus pandai berbicara, menjaga rahasia bahkan mampu menciptakan suasana dramatis hanya dengan menggerakkan kipas atau menggoda seseorang dengan hanya sedikit menampilkan belakang lehernya atau sekilas pergelangan tangannya. </span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:center;line-height:150%;margin:9pt 0;" align="center"><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                                                  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" height="141" width="174" /><!--[endif]--></span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;color:black;padding:0;"><span> </span></span><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.jpg" height="141" width="192" /><!--[endif]--></span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;color:black;padding:0;"><span> </span></span><span style="color:teal;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Perempuan dijadikan komoditi.</span></b><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;margin:9pt 0;"><span><span>            </span>Cerita dimulai dengan adegan Chiyo (sayuri muda) dijual<span>  </span>bersama kakaknya (satsu). Hal ini menandakan bahwa wanita seringkali hanya dianggap<span>  </span>“barang” yang bisa dipertukarkan dengan uang. Era dimana tuan tanah dan pedagang kaya berkuasa, kemiskinan seakan menjadi takdir. Tertutupnya peluang untuk bekerja dan merintis karir membuat mereka menjual bagian dari keluarganya guna mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya yang sakit keras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span>Menurut Marx (Fakih, 2002: 7), komoditi selain memiliki sifat kegunaan <i>(used value) </i>juga mengandung sifat <i>‘exchange value’ </i>yaitu sifat untuk diperjualbelikan. Geisha<span style="color:teal;"> </span>muncul karena perempuan jepang “dipaksa” untuk menjual tenaga mereka dalam bentuk yang dibutuhkan oleh kelas sosial tertentu untuk kelangsungan hidupnya. </span><span>Komoditi baginya tidak hanya sebagai benda, melainkan tersembunyi hubungan sosial. Komoditi dapat dipertukarkan bukan saja karena fisiknya, melainkan hubungan sosial dari tenaga yang terkandung didalamnya. Tawar-menawar antara &#8221;pemilik&#8221; dan &#8221;pelatih&#8221; dalam film <i>Memoirs of Geisha</i> juga menggambarkan bahwa geisha adalah &#8221;industri&#8221; yang menguntungkan.<span style="color:teal;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="color:teal;"><span>            </span></span><i><span>Bagaimana pemilik rumah geisha (Nitta) menghasilkan kekayaan dengan memperkerjakan geisha?.</span></i><span> Lihat adegan selanjutnya ketika Chiyo dididik menjadi geisha dengan biaya dari inangnya. Biaya itu diperhitungkan sebagai &#8220;hutang&#8221;. Hutang yang harus dibayarnya setelah <span> </span>resmi menjadi geisha. <span> </span>Biaya yang sebenarnya “kurang” dari nilai yang akan diciptakan dari sebuah komoditi yang diproduksi oleh geisha. Hubungan pemilik rumah geisha dan geisha memunculkan apa yang disebut dengan kelas. Kelas menurut <i>Resnick</i> dan <i>Wolf</i> dalam Fakih (2002:18) adalah proses dalam masyarakat dimana anggota masyarakat menduduki posisi tertentu dalam proses tersebut, yakni yang bekerja (geisha) dan yang tidak bekerja (danna dan inangnya) yang mengambil nilai lebih dan mendistribusikan geisha. Mereka yang berfungsi sebagai “pendistribusi” nilai lebih geisha disebut sebagai kelas menengah. Keberadaan geisha tergantung pada bagaimana kelas menengah ini memasarkan “produknya” (baca = geisha). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.jpg" height="112" width="200" /><!--[endif]--></span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;color:black;padding:0;"><span> </span></span><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.jpg" height="115" width="200" /><!--[endif]--></span><span style="color:teal;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span>Tuntutan dan kebutuhan hidup membuat seorang geisha harus berusaha tampil sebaik mungkin menjadi <i>entertainer.</i> Geisha berusaha mendapatkan &#8220;danna&#8221;. Disinilah proses kelas berlangsung. Suatu proses dimana para geisha yang bekerja dan menghasilkan nilai lebih dan nilai lebih tersebut dihisap oleh orang yang tidak bekerja (danna dan inangnya) lalu didistribusikan lagi untuk membiayai seluruh kebutuhan hidup geisha dan mempopulerkan yunior-yuniornya yang seringkali diakui sebagai &#8220;adik&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Ritual, Seks dan Relasi Kuasa. </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span>Geisha mempunyai ritual melepas keperawanan pada penawar tertinggi. Mereka merelakan itu karena mereka yakin tidak ada pilihan lain untuk hidup. Adegan dimulai dari Sayuri magang (maiko), dan terus diperkenalkan oleh Mameha ke setiap kunjungan rumah-rumah peristirahatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image009.jpg" height="85" width="160" /><!--[endif]--></span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;color:black;padding:0;"><span> </span></span><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image011.jpg" height="85" width="174" /><!--[endif]--></span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;color:black;padding:0;"><span> </span></span><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image013.jpg" height="83" width="176" /><!--[endif]--></span><span style="color:teal;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span>Dilatih sebagai seorang “calon” geisha dan tidak sembarang bergaul atau bercinta dengan sembarang orang. </span><span>Hal ini untuk menjaga agar popularitas dan harga tawar tidak turun. Mizuage dirancang oleh Mameha pada momentum, waktu dan pilihan orang yang tepat. Sehingga saat itu harga penawaran Sayuri mencapai 15.000 yen, sebuah penawaran tertinggi sepanjang sejarah geisha. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image015.jpg" height="96" width="167" /><!--[endif]--></span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;color:black;padding:0;"><span> </span></span><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image017.jpg" height="96" width="178" /><!--[endif]--></span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;color:black;padding:0;"><span> </span></span><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image019.jpg" height="96" width="178" /><!--[endif]--></span><span style="color:teal;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span>Ritual yang menghalalkan prostitusi dimana relasi kuasa ikut berlangsung. Tidak hanya itu. Tubuh dan seks menjadi bagian yang menarik pada perempuan (Abdullah dalam Abdullah, 2001 :51). Aspek seksual dan sensual dari geisha ditampilkan dalam berbagai bentuk, seperti tarian kipas atau memperlihatkan belakang lehernya. Seks bukan sekedar pusat keberadaan geisha, tetapi merupakan inti dari peradaban yang keberadaannya sangat menentukan tatanan dan struktur yang mengatur hubungan-hubungan antar manusia (baca : relasi kuasa). Geisha menempatkan perempuan sebagai persembunyian laki-laki dalam mempertahankan kekuasaannya. Kekuasaan yang dibangun dengan ketakutan, kekhawatiran ataupun dengan kejahatan. <i>Mizuage</i> juga direncanakan oleh Mameha untuk meng<i>counter </i>fitnah dan intrik dari Hatsumomo (Gong Li) dan geisha lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span>Tidak sembarang wanita bisa menjadi geisha, hanya dengan kecerdasan, paras yang mempesona dan ketrampilan seni, seorang geisha mampu mengangkat derajat dirinya sebagai geisha. Geisha dianggap sebagai penunjang derajat sosial pelakunya walaupun nantinya dia akan menjadi korban dari kejahatan geisha senior ataupun geisha lainnya seperti adegan fitnah yang dilakukan oleh Hatsumomo dan penghianatan Pumpkin, sahabat Sayuri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image021.jpg" height="96" width="167" /><!--[endif]--></span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;color:black;padding:0;"><span> </span></span><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image023.jpg" height="96" width="174" /><!--[endif]--></span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;color:black;padding:0;"><span> </span></span><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image025.jpg" height="96" width="191" /><!--[endif]--></span><span style="color:teal;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Semangat Hidup dan Cinta. </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span>Adegan Mr. Chairman (Ken Watanabe) menghadiahkan es krim kepada Sayuri kecil adalah momen paling penting yang menjadi inti keseluruhan film. Sayuri kecil (Chiyo) yang tertekan karena kehilangan keluarga, hidup di rumah yang penuh fitnah dari Hatsumomo, dan hidup dalam lingkungan yang tidak pernah dia bayangkan, membuatnya &#8220;hampa&#8221;. Pertemuan yang sangat inspiratif. Cintanya kepada Mr. chairman (pada saat pertemuan itu chiyo berumur 9 tahun) membuat Chiyo mempunyai tujuan hidup. Sayuri kecil (Chiyo) ingin cepat dewasa, ingin cepat menjadi Geisha hanya untuk dapat dekat dengan Mr. Chairman. Dia menyimpan saputangan dan gambar kekasih hatinya sebagai obor semangat hidupnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image027.jpg" height="96" width="155" /><!--[endif]--><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image029.jpg" height="95" width="178" /><!--[endif]--><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image031.jpg" height="96" width="167" /><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span>Es krim, uang koin, saputangan sebagai penanda <i>(signifier)</i><span>  </span>dalam film ini memberikan petanda <i>(signified)</i> bahwa ada cinta diantara Chiyo dan Mr. Chairman. Kenangan pertemuan pertama kali yang membuat Chiyo (Sayuri) ingin menjadi Geisha. Padahal ketika menjadi seorang Geisha, dilarang untuk jatuh cinta dan hidup hanya untuk melayani hal lain selain diri sendiri</span> (<i>unselfish</i>, <i>beneficial</i> &amp; <i>servitude</i>).</p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="color:teal;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image033.jpg" height="120" width="180" /><!--[endif]--></span><span style="border:1pt none black;background:black none repeat scroll 0 50%;color:black;padding:0;"><span> </span></span><span style="color:teal;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span>            </span><span>Makna <i>memoirs </i>yang terbaca dalam keseluruhan narasi film ini<i> </i>adalah berupa kenangan betapa ada rahasia hati yang begitu inspiratif, dari seorang gadis cilik yang dibelikan es krim lalu berproses menjadi geisha yang demikian populer hanya untuk dapat hidup melayani Tuan yang dinantinya.***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';color:teal;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:#f9f9f9 none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:center;margin:9pt 0;" align="center"><b>DAFTAR PUSTAKA</b></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:center;margin:9pt 0;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:center;margin:9pt 0;" align="center"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;margin:9pt 0;">Abdullah, Irwan, 2001. <i><span>Seks, Gender dan Reproduksi Kekuasaan</span></i><span>, Yogyakarta : <span>       </span>Tarawang Press</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:9pt 0 9pt 36pt;"><span>Berger, Arthur, 1999. <i>Media Analysis Techniques</i>, Yogyakarta : Penerbitan Universitas Atma Jaya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:9pt 0 9pt 36pt;"><span>Fakih, Mansour, 2002. <i>Jalan Lain : Manifesto Intelektual Organik</i>, Yogyakarta : Pustaka Pelajar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:9pt 0 9pt 36pt;">Fiske, John, 2004. <i>Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif,</i> Yogyakarta : Jalasutra</p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:9pt 0 9pt 36pt;">Metz, Christian, 1991. <i>Film Language : A Semiotics of the Cinema</i>, Chicago : The University of Chicago Press</p>
<p class="MsoNormal" style="background:white none repeat scroll 0 50%;text-align:justify;text-indent:-36pt;margin:9pt 0 9pt 36pt;"><span>Samak, Tanete Pong, 2001 . “Semiotik dalam Sinematografi : Teori Film Christian Metz<i>”</i> dalam buku <i>Semiotik Mengkaji Tanda dalam Artifak</i>, Jakarta : Tiara</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/wandalistiani.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/wandalistiani.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wandalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wandalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wandalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wandalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wandalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wandalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wandalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wandalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandalistiani.wordpress.com&blog=2922385&post=9&subd=wandalistiani&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandalistiani.wordpress.com/2008/02/21/geisha-karya-seni-bergerak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dae5a06f26fa5f1eea2f8052a45f8ab4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">wandalistiani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image009.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image011.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image013.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image015.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image017.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image019.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image021.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image023.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image025.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image027.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image029.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image031.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME%7E1/XPPROF%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image033.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>