MENELITI SEBELUM MENULIS

Pada saat seseorang ingin menulis tentang sebuah fenomena budaya, dia akan melakukan pengamatan sekilas. Meskipun tanpa perangkat penelitian yang lengkap, seseorang ini telah dianggap meneliti. Cara seseorang mempelajari sesuatu atau mempelajari budaya tertentu baik secara langsung maupun melalui tulisan orang lain sebelumnya selalu terkait dengan penelitian (research), studi (study) atau kajian (analysis). Beberapa orang membedakan istilah penelitian, studi dan kajian menurut gradasi kedalaman pembahasan, kelengkapan perangkat pembahasan, aspek wilayah dan kegunaaan (Endraswara, 2006 : 2). Meneliti adalah langkah menjelaskan fenomena yang menggunakan kelengkapan dan langkah-langkah strategis sebelum melakukan kegiatan menulis.

John Dewey dalam bukunya How We Think (Setiadi, 2006: 15) mengemukakan langkah pemecahan masalah, pertama, a feeling of perplexy. Kedua, the definition of the problem. Ketiga, sugesting and testing hypotheses. Keempat, development of the best solusion by reasoning dan, terakhir, testing of the conclution followed by reconsideration of necessary.

Model pemecahan masalah dari John Dewey ini mendasari seorang penulis untuk melakukan penyelidikan sebelum menulis. Adapun tahapan penyelidikan sederhana dapat dilakukan seseorang diawal kegiatan menulis adalah merasakan adanya masalah, merumuskan masalah, membuat pertanyaan penelitian untuk memecahkan masalah, menetapkan sumber data, melakukan pengumpulan data atau informasi, melakukan klasifikasi dan analisis serta melakukan pembahasan.

Meneliti sebelum menulis dirasa perlu untuk menghindari duplikasi (plagiat) penulisan maupun ide yang sama sehingga pengulangan dengan tema yang sama bisa dihindari. Lain halnya jika seseorang ingin menulis dengan tema yang sama tetapi pada konteks yang berbeda. Pengulangan tema dirasa perlu sebagai sebuah penegasan tentang munculnya pola-pola tertentu dalam siklus kehidupan yang menarik perhatian masyarakat pembaca. Tema-tema tulisan yang sekedar menuntut perhatian semata atau merupakan permasalahan bersama yang meminta penyelesaian segera. Cara yang paling sederhana untuk memahami tema-tema tersebut dan menghindari pengulangan (duplikasi atau plagiat) adalah membuat rekapitulasi dari semua tema-tema penulisan yang telah ditulis sebelumnya.

Namun demikian, dunia penulisan dan pembaca selalu berhubungan dengan persoalan baik-buruk atau layak-tidak layaknya sesuatu. Persoalan baik-buruk atau layak-tidak layaknya tulisan adalah persoalan nilai. Persoalan nilai jauh lebih rumit tatkala menyentuh persoalan selera, sehingga muncul adagium latin ”degustibus non disputandum” atau selera tidak dapat diperdebatkan, tetapi ada alat ukur yang sama pada manusia yaitu akal dan pikiran untuk mempertimbangkannya, tahu apa yang dipilih, tahu mengapa harus memilih dan tahu risiko akibat pilihannya. Sayangnya, tidak setiap orang menyadari dan berlaku demikian.

Tulisan yang dikatakan ”baik” atau ”berkualitas” berarti mengandung nilai. Nilai bukan benda atau unsur benda, melainkan sifat, kualitas atau sui-generis, yang dimiliki objek tertentu yang dikatakan ”baik”. Menurut Husserl (Setiadi, 2006: 109) bahwa nilai milik semua objek, nilai tidaklah independen. Nilai menunjukkan sebuah pengakuan, objek yang dipermasalahkan, keuntungan yang diperoleh seperti kepentingan atau keinginan seseorang, tujuan yang dicapai dan sebuah hubungan antara penulis dengan orang lain baik keluarga, kelompok atau masyarakat tertentu bahkan pada profesinya sebagai penulis sekalipun.

Tulisan yang dinilai ”baik” atau ”berkualitas” inilah yang biasanya melalui sebuah proses pengamatan yang dikenal dengan istilah meneliti. Pertanyaannya kemudian, berapa banyak penulis di Indonesia yang melakukan penelitian, kajian atau studi sebelum menulis sebuah tulisan non fiksi -artikel, opini, naskah buku- atau, cerita fiksi -novel, cerpen, cerbung dan sebagainya-?. š›

Daftar Pustaka

Endraswara, Suwardi, 2006. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan : Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi, Yogyakarta : Pustaka Widyatama

Setiadi, Elly M, 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Jakarta : Kencana


About this entry